Arti Kebijakan dari Seorang Ayah

Sore itu, saya sedang menunggu obat untuk istri saya di sebuah apotik di Kota Tasikmalaya. Sudah menjadi ritual, menunggu apoteker meramu obat-obatan yang diberikan dokter cukup memakan waktu. Padahal waktu itu saya sedang mencuri waktu di sela-sela bekerja saya yang sore hari.
Acara-acara TV yang terpasang di ujung ruangan apotek, sedikitnya membuat rasa jenuh menunggu terobati. Mereka menyaksikan setiap acara mengurangi waktu. Benar sebuah pepatah, menunggu pekerjaan yang sangat menjemukan. Demikian juga saya saat itu, dengan waktu yang mepet, menunggu pun menjadi pekerjaan yang sangat menggelisahkan.
Tiba-tiba seorang pria masih muda datang tergesa-gesa, mengenakan peci hitam dan mengenakan baju putih. Di tangannnya menjinjing gantungan kunci dan masuk ruang tunggu opotik. Ia disambut seorang anak kira-kira usia 8 tahun sambil terungut-sungut. Si pria itu hanya berujar, "maaf aba terlambat". Sementara, ibu muda yang rupanya istri pria berpeci ini hanya tersenyum menyaksikan tingkah anaknya itu, sambil mengikuti suaminya menuju kendaraan di lokasi parkir.
Rupanya, pria muda berpeci itu ayah anak yang bersama ibunya menunggu dijemput. Entah ada halangan apa, dia terlambat dari jam yang dijanjikan. Namun yang menarik, meski anaknya cemberut dengan kelambanannya, ia malah tersenyum dan berulang kali minta maaf. "Seorang ayah yang bijak" kata saya dalam hati.
Mungkin, kekaguman bukan hanya dari saya. Seroang ibu yang sama-sama sudah hampir tiga perempat jam menunggu obat, tatapan matanya mengikuti keluarga kecil itu hingga ke luar ruangan. "Mungkin dia terkesan dengan kebijakannya," kata hati saya mengira-ngira.
Memang berat rasanya, kita meminta maaf terhadap orang yang kita rasa posisinya di bawah. Baik kepada bawahan kerja, keluarga serta orang yang strata sosialnya dianggap lebih rendah. Kita juga sering bersikap kurang proporsional memperlakukan orang yang belum tahu asal-usul serta statusnya. Rasanya kita ingin selalu benar, menang serta selalu berkuasa juga dihormati. Padahal tanpa menujukkan sikap berkuasa atau menunjukkan keluhuran budi, jika sikap kita sudah proporsional menghormati orang lain, tanpa diminta pun penghargaan itu datang sendiri. (***)

Kebijakan Seorang Ayah

Sore itu, saya sedang menunggu obat untuk istri saya di sebuah apotik di Kota Tasikmalaya. Sudah menjadi ritual, menunggu apoteker meramu obat yang diberikan dokter cukup memakan waktu. Padahal waktu itu saya sedang mencuri waktu di sela-sela bekerja yang sore hari.
Acara-acara TV yang terpasang di ujung ruangan apotek, sedikitnya membuat rasa jenuh menunggu terobati. Para pengunjung menyaksikan setiap acara mengurangi waktu. Benar sebuah pepatah, menunggu pekerjaan yang sangat menjemukan. Demikian juga saya saat itu, dengan waktu yang mepet, menunggu pun menjadi pekerjaan yang sangat menggelisahkan.
Tiba-tiba seorang pria masih muda datang tergesa-gesa, mengenakan peci hitam berbaju putih. Di tangannnya menjinjing gantungan kunci dan masuk ruang tunggu opotik. Ia disambut seorang anak kira-kira usia 8 tahun sambil tersungut-sungut. Si pria itu hanya berujar, "maaf aba terlambat". Sementara, ibu muda yang rupanya istri pria berpeci ini hanya tersenyum menyaksikan tingkah anaknya itu, sambil mengikuti suaminya menuju kendaraan di lokasi parkir.
Rupanya, pria muda berpeci itu ayah anak yang bersama ibunya menunggu dijemput. Entah ada halangan apa, dia terlambat dari jam yang dijanjikan. Namun yang menarik, meski anaknya cemberut dengan kelambanannya, ia malah tersenyum dan berulang kali minta maaf. "Seorang ayah yang bijak" kata saya dalam hati.
Mungkin, kekaguman bukan hanya dari saya. Seroang ibu yang sama-sama sudah hampir tiga perempat jam menunggu obat, tatapan matanya mengikuti keluarga kecil itu hingga ke luar ruangan. "Mungkin dia terkesan dengan kebijakannya," kata hati saya mengira.
Memang berat rasanya, kita meminta maaf terhadap orang yang kita rasa posisinya di bawah. Baik kepada bawahan, keluarga serta orang yang strata sosialnya dianggap lebih rendah. Kita juga sering bersikap kurang proporsional memperlakukan orang yang belum tahu asal-usul serta statusnya. Rasanya kita ingin selalu benar, menang serta selalu ingin dihormati. Padahal tanpa menujukkan sikap itu, jika sikap kita sudah proporsional menghormati orang lain, tanpa diminta pun penghargaan datang sendiri. (***)