Cobalah Menulis dari Sekarang

Bagi sebagian besar pelajar, menulis masih menjadi pekerjaan yang susah. Ini karena, menulis dirasakan sebagai pekerjaan yang luar biasa rumitnya, melebihi pekerjaan yang paling rumit sekalipun. Namun di lain pihak, kita juga menyaksikan, tak sedikit pelajar yang sudah pandai mengeluarkan gagasannya melalui tulisan, dalam bentuk cerpen, novel atau berita (news) meski publikasinya masih terbatas di lingkungan sekolah. Tak jarang pula, pelajar yang aktif di media massa mengisi kolom pelajar atau remaja, yang disediakan oleh media massa tempat di mana pelajar itu aktif.
Desti Pertiwi, pelajar kelas 2 SMAN 5 Tasikmalaya misalnya. Ia setiap hari Sabtu menulis berita tentang aktifitas di sekolah dan remaja di halaman Go To School Radar Tasikmalaya. Halaman tersebut terbit setiap hari Selasa --penulisnya semua pelajar-- termasuk Desti di dalamnya.
Selain Desti, ada juga Lisna, masih pelajar kelas 2 SMAN 5 Kota Tasikmalaya. Setip hari Sabtu pula, Lisna membuat berita, tak pernah ada istilah kosong berita atau tidak ada ide. Ada saja gagasan yang mereka ekspresikan melalui tulisan yang adakalnya di luar pemikiran orang-orang dewasa. Mulai permasalahan remaja hingga masalah cara pengajaran guru di sekolah yang terkadang membuat pelajar bosan. Mereka mengkritik, memuji atau sekedar mengomentari.
Selain menulis berita, mereka secara bergantian menulis cerpen atau resensi. Meski masih sederhana, namun dari tulisan meraka itu menujukkan, siapapun, kalau mau menulis pasti bisa. Sesibuk apapun, sesempit apapun waktu. Saya tahu, mereka aktif di Rohis, OSIS, bahkan organisasi ekstra kurikuler (ekskul) lainnya. Tetapi, tulisan mereka selalu nongol di halaman Go To School edisi Selasa itu.
Desti menuturkan, awalnya, ia senang menulis karena terobsesi dengan para penulis besar yang bukunya mencapai peringkat best seller. Ia menyebut, sangat termotivasi dengan karya fenomenal “Ayat-Ayat Cinta” karya Habiburrohman El-Siraji (HES). Selain itu buku-buku lain karya HES, seperti “Di Atas Sajadah Cinta”, “Ketika Cinta Bertasbih” dan “Ketika Cinta Berbuah Surga.”
Kisahnya juga, sebelumnya, ia sangat tertarik dengan novel-novel Asma Nadia, novelis perempuan yang buku-bukunya selalu digemari remaja. Misalnya, serial “Aisyah Putri”. “Aku belajar menulis, karena terobsesi ingin menjadi penulis seperti penulis yang karya-karyanya pernah aku baca,” kisah gadis berkerudung besar yang juga berkaca mata ini.
Namun kisah Desti, berbeda dengan kisah salah seorang calon wartawan. Sebut saja Andi. Andi dua kali mengikuti seleksi menjadi wartawan di media lokal berjarigan nasional. Dua kali pula ia gagal tak diterima. Namun suatu saat, koran tersebut membutuhkan wartawan secara cepat tanpa melalui rekrutmen secara terbuka.
Manajemen koran itu mencari sarjana yang dianggap punya semangat. Dipilihlah jalan pintas, mengontak sarjana yang masih nganggur. Akhirnya Andi dipanggil melalui temannya. Keesokan harinya, ia diwawancarai dan diperbolehkan mencoba meliput berita dengan bit (lokasi liputan) yang ditentukan. Ia tidak sendiri, namun ditemani wartawan yang diangap sudah senior untuk mendampingi Andi.
Sore di hari pertama. Ia datang dengan muka lelah. Ditanya redaktur desk, apa berita yang didapat? Calon wartawan itu mengeluh, belum dapat apa-apa. Kata redaktur, “tidak masalah, ini hari pertama”, sambil memberi tahu bagaimana cara membuat lead berita, enjel berita, memberi judul serta memberi tahu beberapa hal terpenting dalam membuat berita bagi pemula.
Hari kedua, ternyata calon wartawan tersebut tidak hadir. Tidak ada, kabar atau pemberitahuan, ia nampaknya mengundurkan diri. Dan hingga saat ini, calon wartawan itu benar-benar tidak nongol. Benar-benar mengundurkan diri.
Saya menyimpulkan, calon wartawan itu tumbang sebelum masa training berakhir. Masa training biasanya tiga bulan dan boleh diperpenjang kalau dianggap belum lulus. Namun mereka juga tetap diberi honor semestinya. Pemikiran saya, rekrutmen ini kesempatan besar yang jarang-jarang calon wartawan diminta bergabung tanpa proses seleksi yang ketat.
Saya merekomendasikan dia, karena dinilai memiliki pengalaman di organisasi selama ia menjadi mahasiswa. Alhasil pikir saya, dia sudah memiliki jaringan serta sedikit banyak mengatahui kondisi daerah. Biasanya, wartawan yang sudah lama tinggal di daerah besangkutan, akan lebih arif dan mengatahui banyak hal di daerah. Sehingga berita-beritanya hidup dan tidak dangkal.
Alasan lain memilih dia calon wartawan itu, karena gelar akademiknya sesuai kriteria, S-1. Gelar akademiknya lebih tinggi dibandingkan kru Go to School yang masih kelas dua atau tiga SMA. Namun dalam semangat, ternyata pelajar lebih memiliki obsesi dan mau belajar menulis ketimbang calon wartawan yang sudah sarjana itu. Kejadian serupa bukan satu atau dua kali, namun sering.
Meski tidak representatif dari semua persoalan sulitnya menulis, kisah di atas nampaknya bisa sedikit mewakili. Artinya, menulis tidak berarti harus bergelar sarjana atau gelar akademiknya tinggi. Namun sangat perlu, mencoba, mencoba, mulai dari yang sederhana, yang paling mudah dan pantang menyerah.
Dalam buku-buku motivasi menulis, sering dikisahkan, seorang penulis lepas di media massa, karyanya baru dimuat, saat ia mengirimkan tulisan yang ke 1000. Sebanyak 999 tulisan, semuanya teronggok di tong sampah redaksi.
Kisah di atas ada korelasi dengan pengalaman penulis yang hingga kini menjadi redaktur opini. Seringkali, penulis menerima SMS yang isinya menanyakan artikel yang dikirim melalui email siang hari, apakah dimuat edisi hari esok, lusa atau kapan?. Ada juga yang menelepon, meyakinkan, tulisannya sangat bagus, penting dan layak muat. Sehingga sayang, kalau tulisan itu tidak dimuat. Ada juga penulis yang mengaku kapok dan tidak akan lagi mengirim tulisan, karena tulisan yang pertama tidak dimuat. Padahal media juga punya kriteria tertentu, sebuah opini layak dimuat atau tidak. “Gagasannya tidak perlu bagus-bagus amat, yang penting mudah dibaca, bisa dimengerti maksudnya oleh pambeca,” kata saya suatu saat menjawab pertanyaan teman saya yang mengirim artikel. Dia sedang menempuh S-2 di Unpad. Saat itu, ia berkali-kali meyakinkan tulisannya bagus, yang sudah seminggu tidak dimuat.
Ia sempat berjanji, akan membuktikan, tulisannya akan nongol di halaman opini koran berskala regional. Namun sayang hingga kini tulisannya belum saya lihat.
MENCARI REZEKI DENGAN MENULIS
Buku fenomenal “Ayat-Ayat Cinta” karya Habiburrohman El-Siroji (HES) nampaknya menjadi perhatian para peminat buku novel dan pendakwah. Tak kurang dari ratusan ribu kopi, buku tersebut dijual sejak diterbitkan tahun 2004 silam. Lantas apa penghasilan buat penulisanya?
Artikel tulisan M Anwar Djaelani, pengasuh sebuah pondok pesantren di Jawa Timur, “Habiburrohman Fenomenal Penulis Kaya,” Radar Tasikmalaya Edisi 3 Maret 2008 menyebutkan, HES menerima royalti buku “Ayat-Ayat Cinta” dari penerbit sebesar Rp1,5 miliar. Sungguh jumlah yang pantastis.
Demikian juga dengan karya-karyanya Helma Tiana Rosa (HTR). Novelis yang dijuluki Majalah Tempo lokomotif penulis muda Indonesia itu, dari tulisan fiksi-fikisnya menerima royalti puluhan juta setiap bulan. Meski menjawabnya mencontohkan adiknya Asma Nadia yang minimal menerima royalti Rp30 juta setiap tiga bulan. Berarti, Helma Tiana Rosa menerima royalti lebih besar dari adiknya, karena bukunya lebih banyak dan ia penulis lebih senior dari Asma Nadia.
Bagaimana dengan penulis lainnya. Fauzhil Adhim misalnya, pengarang buku “Indahnya Pernikahan Dini”, “Mencapai Pernikahan Barakah” juga “Kado Pernikahan untuk Istriku” dan “Kupinang Engkau dengan Hamdalah”. Ternyata, bukunya yang meraih best seller itu, mampu mandatangkan royalti antara Rp15 juta-Rp25 juta per bulan.
Yang paling menggiurkan, penulis best seller “Harry Potter”. Kekayaan dia dari menulis buku bercerita sihir ini dilaporkan, melebihi kekayaan Ratu Inggris, Elizabeth II. Buku Hary Potter yang diterbitkan di 200 negara ini terjual sebanyak 250 juta eksemplar diterjemahkan ke dalam 61 bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Sungguh luar biasa.
Penulis mengutip semua itu semata-mata untuk contoh. Betapa dengan tulisan, orang bisa menjadi aman secara finansial, termasuk bagi pelajar dan mahasiswa.
Izinkan, penulis juga mengisahkan tentang rekan-rekan yang semasa kuliah di Jogjakarta hidup dari menerjemahkan, atau mengalihbahasakan buku. Ada teman asal Jawa Timur, yang mencukupi kebutuhan makan, beli buku dan biaya kuliah hanya dengan menerjemahkan. Semasa KKN, penulis kebetulan sekelompok dengan dia. Sihab nama mahasiswa itu, kuliah di jurusan Aqidah Filsafat Fakultas Ushuluddin IAIN Sunana Kalijaga. Selama KKN ia selesai menerjemahkan buku kecil bersisi tentang syair-syair karya Jalaludin Rumi, sufi dari timur tengah abad pertengahan.
Untuk menghasilkan terjemahan, memang ia meluangkan waktu ekstra, berdiam lama di depan kemputer sambil membolak-balik beberapa kamus. Bila rekan-rekannya main, ia rela sendirian mengeja hurup demi hurup karya maestro sufi itu. Namun hasilnya –meski honornya sering macet—cukup membantu dia dan bisa bertahan hidup di kota pelajar Jogjakarta.
Ada juga kisah rekan penulis yang lain. Namanya Sufri, asal Bukit Tinggi Sumatera Utara. Ia kuliah di Jurusan Ahwalus As-Sahsiyah Fakultas Syariah. Semesternya satu tingkat lebih atas dari penulis. Meski ia menjadi ketua organisasi ekstra kemahasiswaan, tetapi ia selalu meluangkan waktu untuk menerjemahkan. Berarti dia selalu menulis bukan? Waktu itu --kalau tidak salah-- bukunya tentang teologi Mutazilah, teologi Islam liberal yang terkadang banyak dicaci oleh penentangnya. Saat penulis akan meninggalkan Jogjakarta, Sufri akan menerjemahkan buku kedua.
Namun tentu, semua itu perjalanan mereka yang tidak harus mesti sama kita jalani. Semua orang, semua pribadi memiliki karakteristik cara untuk mulai menulis, termasuk penulis. Jujur, selama kuliah, penulis masih jarang menulis. Hanya saja pernah suatu saat, membuat resensi buku karya dosen tentang Ilmu Falaq menurut pemikiran Sadudin Djambek. Entah kebetulan atau memang layak muat, resensi itu diterbitkan di Kompas. Honornya cukup lumayan untuk saat itu, Rp350 ribu. Ukuran yang cukup besar bagi seorang mahasiswa dan penulis pemula. Tulisan itu menjadi awal yang memberi motivasi buat penulis.
Maka mesti dipahami, kita jangan dulu berharap, akan menjadi besar, sementara tidak pernah mencoba yang kecil. Jangan pernah bermimpi, tulisan kita akan menggemparkan pembaca saat diterbitkan di koran. Padahal mencoba menulis gagasan atau merangkai kata membuat kalimat di kertas saja tidak pernah. Tak mungkin akan muncul kalimat yang indah, kata-kata mutiara yang menyejukan, pemikiran yang revolusioner dan gagasan kita didengar dan dibaca orang, bila pena kita tidak pernah memulai dari hurup a hingga z atau 0 hingga 9 dalam lembaran kertas atau halaman komputer. Maka kunci menulis, mulailah apa yang ingin Anda tulis, meski itu hanya ranting yang jatuh atau sekedar daun yang tumbang. Mulailah dari sekarang. Cobalah…! (*)