Kreatifitas Berarti Rezeki ala Penjual Cireng Isi

Tak perlu dibantah, kreatifitas dalam dunia apapun menjadi kunci utama. Tanpa kreatif, di tengah serbuan komoditas dari negeri tetangga yang lebih murah –meski belum tentu bagus- bisnis apapun yang kita jalani bisa-bisa cepat kembali ke rahmatullah alias innalillahi wainnailaihi rojiun bin wafat.

Banyak sekali argumen yang mendukung pentingnya kreatif itu. Sebut saja pencetus Cireng Isi dan Cilok Gaul. Betapa tidak, hanya dengan menambah kata Isi dalam papan nama dorongan penjual Cireng Isi, harga sepotong aci digoreng (cireng) jadi jauh beberapa kali lipat ketimbang cireng yang biasa dijual bibi-bibi di warung.

Di para pedagang biasa, sepotong aci goreng paling banter dihargai Rp500. Tetapi di tangan penjual Cireng Isi dengan takaran yang sama atau bahkan lebih kecil, bisa dijual Rp1000 dan itu laris manis tanpa ada yang menawar lebih murah. Meski memang dari penambahan kata Isi ada konsekuensi tertentu. Di dalam lapisan cireng oleh pembuatnya wajib diisi, karena memang itu tredmark-nya.

Namanya juga Cireng Isi masa kosong... ya kan? Isinya bisa berupa daging (abon) sekedarnya atau sambal wortol.

Saya yakin, dari sisi produksi cireng isi dengan cireng tanpa isi tak terlalu berbeda. Tetapi dari sisi keuntungan tentu jauh berlipat. Buktinya kini sangat marak penjual Cireng Isi yang lalau lalang. Kalau tak ada untung ngapain mereka jualan.

Sentuhan kreatifitas Cireng Isi juga terlihat dari bentuk cireng. Ada yang menyerupai bantal, segi tiga, juga berbentuk hati (love). Tentu saja variasi itu memberi alternatif kepada para calon pembelinya. Biasa-bisa kemudian, cireng bentuk love dijadikan cendera mata sebagai tanda cinta oleh para remaja. Kayak di reality show yang tak realistis aja he2...

Demikian juga spanduk yang dipasang di bagian samping dorongan roda, sudah sedikit modern, berbahan plastik yang ditulisi dengan teknik digital printing. Gambarnya, berupa cireng-cireng beserta hargnya.

Contoh kedua Cilok Gaul. Tentu saja makanan berbahan dasar tepung dan aci ini sudah sangat akrab di lidah orang Sunda. Disebut cilok karena akronim dari kata Aci Dicolok atau ditusuk saat memakannya. Cilok agar lebih nikmat harus dimakan dalam keadaan hangat dicampur saos tomat plus kecap juga rasa pedas kalau mau. Harganya cukup bersahabat, mulai Rp100-Rp500.

Lantas apa keunikan Cilok Gaul? Lagi-lagi, yang membedakannya hanya sebuah kata. Ya itu tadi embel-embel kata gaul. Kata yang cukup sederhana namun menusuk batin. Ces ”Cilok Gaul”.

Kok bisa? Entah bagaimana awalnya, yang jelas dengan kata gaul itu, spertinya cilok mampu dibawa ke permukaan untuk ”digaulkan” kepada masyarakat penikmatnya. Jika sebelumnya penikmat cilok terkesan murahan, atau pinggiran, dengan kata gau –apalagi harganya sedikit mahal- cilok jadi terangkat dan terkesan elitis.

Dari contoh dua itu saja benar-benar membuktikan, kreatifitas itu wajib ain bagi para pebisnis, baik dalam sekala besar atau kecil. Dan ngomong-ngomong penulis sedang berfikir bagaimana caranya membuat bala-bala dan comro supaya lebih menarik dan layak jual......????