Prof Rudy, temukan M-Bio untuk gemburkan tanah pertanian

Berawal dari kegelisahan terhadap menurunya produktifitas pangan, membawa Prof Rudy Priyadi –ilmuan di Universitas Siliwangi Tasikmalaya— pada penemuan M-Bio. M-Bio pada prinsipnya, kerja cairan mikro organisme yang berfungsi menggemburkan tanah yang selama ini telah tercemar dengan bahan-bahan kimiawi baik akibat penggunaan pupuk kimia atau pestistida.

Sejak tahun 1992, doktor lulusan Universitas Padjajaran Bandung tahun 1996 pada bidang pertanian ini, meneliti kandungan tanah yang tercemari. Kesimpulannya, tanah pertanian sudah sakit sehingga tidak akan lagi memberi penghasilan yang maksimal terhadap para petani.

Prof. Dr. Rudy Priadi, penemu M Bio.

Di sisi lain, setiap tahun terjadi penyempitan lahan sawah akibat desakan populasi manusia yang tidak bisa dihindari. Sementara produktifitas pangan tidak boleh terhenti atau berkurang. Di sinilah perlu upaya revolusioner dan sederhana agar dengan lahan terbatas, pangan tetap melimpah dan berkualitas
Salah satu titik terang, dari sering Rudy menggelar diskusi terbatas terkait produktifitas lahan pertanian padi, misalnya dengan pegiat di Kontak Tani Nelayan Andalam (KTNA) Indonesia.

Saat itu ada fakta keberhasilan bidang pertanian, dengan penerapan teknologi dari Jepang dan Thailand. Namanya, Teknologi Affectifve Microorganism (TAM) yang diadopsi di Indonesia pada dekade 1992-1993. Hasil teknologi tersebut, secara kuantitas dan kualitas, pangan jauh meningkat. Namun sayang, petani tidak bisa menjabarkan secara ilmiah peningkatan produksi pertanian tersebut sehingga fakta-fakta itu tidak direspon baik oleh pemerintah bahkan lembaga penelitian sekalipun.

Berbekal kelimuan hasil pelatihan di ITB tahun 1998, Rudy mencoba menerapkan teknologi permentasi. Bersama petani di KTNA serta tokoh petani lain di Tasikmalaya, ia menerapkan berbagai percobaan dengn teknologi permantase terhadap pupuk organik. Hasil trial and error itulah, mulai ditemukan sebuah jawaban. Bahwa dengan permentase kompos organik bisa cepat menjadi pupuk. Teknologi ini, mikoroba menguntungkan bisa mengubah bahan organik.Proses pembusukan itu disebut proses permentasi.

Hasil penelitian awal, Ridy pun sempat diundang dalam seminar tingkat internasional Asia Pasific National Agricukture Network (APNAN) di Bangkok-Thailand. Dari pertemuan itu pula, semakin memantafkan temuan awal Rudi tentang teknogi permentase. Landasan teori itu  diadaptasi dengan teknolgi pertanian berbasis lokal atau yang lebih sesuai dengan kondisi di Indonesia. Maka dihasilkanlah teknonogi baru yang dia namai dengan M-Bio.

Cara pembuatan M-Bio terang Rudy melalui proses isolasi bahan mikoroba dari alam lewat cara-cara tertentu. Setelah mikroba bermanfaat tertangkap, lalu dipilih dan diperbanyak melalui prosedur pencampuran mikoroba (mic culture) yang terdiri dari beberapa mikroba yang saling kerjasama sehingga mampu mempermentasi bahan-bahan organik. Proses pengayaan mikroba kata dia dilakukan secara laboratoruum dengan rumus-rumus tertentu. 

M-Bio kini sudah menjadi merek dagang terdaftar di Departemen Pertanian RI. Selain itu, sudah memiliki Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) atau hak paten teknologi M-Bio yang diajukan kepada Departemen Kehakiman dan HAM dengan nama CMF 21 dengan hak paten nomor P.20000939

Mengembangkan Kultur Nenek Moyang

Dari sisi kerja M-Bio secara sederhana, mengembalikan tingkat kesuburan tanah pertanian melalui permentasi bahan-bahan organik. Misalnya pada lahan yang akan diatanami padi atau tanaman lain, harus disediakan terlebih dahulu pupuk organik baik kotoran hewan maupun daun-daun hijau bahkan sampah oragnik perkotaan.

Teknisnya, bila bahan-bahan organik sudah siap, maka sebarkanlah bahan M-bio dengan takaran tertentu. Mikro organisme dalam M-Bio tersebut akan mempercepat proses kompos menjadi pupuk. Kalau secara alamiah dari bahan organik menjadi pupuk memakan waktu dua bulan. Dengan campuran M-Bio, hanya memakan waktu satu atau dua minggu, kompos organik sudah menjadi pupuk dan dapat digunakan. “Dengan pola seperti ini, tanah tidak akan keras lagi dan langsung gembur.

Mahluk organisme seperti cacing atau mikorba bermanfaat akan kembali berfungsi. Produksi lahan akan lebih banyak antara 30-40 persen dengan pola tanam tanpa M-Bio. Sedangkan bila menggunakan pupuk kimiawi, hanya mampu mengembalikan sifat kimia kesuburan tana,” katanya.

Kini terang Rudy dalam penggunaan M-Bio di masyarakat tidak sekedar untuk penggemburan lahan pertanian. Namun digunakan untuk bidang perikanan dan peternaka. Di Fakultas Pertanian Unil sendiri terang Rudi, M-Bio dijadikan lahan praktik mahasiswa dalam peternakan pembesaran ayam bloiler dan tanaman. Hasilnya cukup bagus. Dengan takaran tertentu, mampu menghasilkan daging ayam yang kualitasnya bagus.

“Kami juga menerapkan teknologi M-Bio di pusat inkubasi bisnis Fakultas Pertanian untuk praktik mahasiswa. Kami juga sering mendapat laporan dari masyarkat ternyata M-Bio mampu meningkatkan produksi daging sapi juga ikan. Justeru keberhasilan itu berdasarkan laporan-laporan bukan berdasarakan hasil penelitian yang disengaja,” katanya.

Belum Diproduksi Massal

Penemuan bahan permentasi yang oleh Rudy Priyadi tersebut sayang belum diproduksi secara besar-besaran. Padahal, manfaat untuk industri peternakan dan peningkatan produksi pertanian sudah dirasakan oleh petani dan peternak.

Dr Ida Hodiyah, produsen M-Bio yang juga turut meneliti kelahiran M-Bio di Fakultas Pertanian Univesrsitas Siliwangi Tasikmalaya mengatakan, produksi M-Bio saat ini sebatas produksi rumahan yang kuantitasnya terbatas. Per putaran produksi atau selama tiga bulan hanya menghasilkan 70.000 liter. Sedangkan cara promosi dan penjualan masih sebatas getuk tular dari pengguna yang satu kepada pengguna yang lain.

“Bila petani atau pengguna merasa puas dengan produk M-Bio, mereka bicara kepada yang lain dan orang yang diberi tahu membeli kepada kami,” terang Ida yang juga mantan dekan Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi itu.

Lanjutnya, untuk pengiriman, banyak di Pulau Jawa bahkan luar Pulau Jawa seperti Banjarmasin (Kalimantan) juga ke luar negeri ke Malaysia.  Ida berharap, kalau ada modal untuk produksi secara massal, ia siap bekerja sama. Hal itu bila melihat sisa manfaat, akan berdampak besar terhadap produktifitas pertanian dan peternakan dengan lahan terbatas. “Kami berharap produksi M-Bio bisa dilakukan secara massal. Namun masih terkendala permodalan. Kalau ada investor kami siap kerja sama,” terangnya. (anep paoji)