Home » » Ide Usaha, Berburu Untung Dari Sparepart Motor Bekas

Ide Usaha, Berburu Untung Dari Sparepart Motor Bekas



Hampir di setiap penjuru kota, kita sering melihat penjual sparepart bekas. Mulai sparepar mobil, sepeda motor, sepeda hingga elektronik jadul.  Di Kota Tasikmalaya salah satunya. Di Pertigaan Jalan Cihideung - KHZ Mustofa, merupakan lokasi penjualan sparepart bekas sepeda motor yang cukup ternama.

Ujang di bengkelnya
Para pecinta motor tua, atau sepeda motor yang sparepartnya sudah tidak lagi diproduksi pabrik, lokasi ini menjadi andalan mendapat sparepart motor kesayangannya.


Salah seorang penjual di lokasi ini, bernama ujang.  Sesama penjual loak, Ujang biasa dipanggil Ujang  Breker. Bersama penjual di 30 kios serupa, ia bekerja setiap hari mulai jam 7:00 WIB hingga pukul 17:00 WIB.

Nama breker diambil dari spesialisasi dia menjual sockbreaker bekas. Mulai sockbreaker sepeda motor tahun 70 an hingga sepeda motor terbaru tersedia. Harganya variasi, mulai Rp60.000 sepasang hingga Rp80.000 tergantung kualitas. Harga tersebut sudah termasuk memasang kembali dan menukarnya dengan socbreaker bawaan pelanggannya untuk diperbaiki.

Ia sudah tahu persis jenis sockbreaker. Dengan mendengar suara derit dari sockbreaker sepeda motor yang lewat, ia sudah paham  tingkat kerusakan sockbreaker. Misalnya seal oli bocor sehingga oli menetes dan kerja sockbreaker berkurang.

Ujang telah menekuni usaha jual sockbreaker bekas sejak tahun 2006 setelah lulus SMK yang dulu bernama STM. Berjualan loakan katanya, cukup menguntungkan, setiap hari bisa diandalkan, dapurpun tetap ngepul. Sehari paling kecil dia mendapat keuntungan Rp50.000 bahkan mendapat Rp100.000.

Untuk mendapat barang loakan akunya tidak sulit. Banyak yang datang langsung membawa barang ke kiosnya. Umumnya sockbreaker yang dijual karena sepeda motornya dimodivikasi dengan sparepart gaya. Banyak juga yang menjual sparepart karena sudah tidak digunakan.

Demikian juga penjualan kata Ujang, sudah tak mengalami kesulitan. Selain banyak yang berdatangan ke kisonya, ia sering mendapat pesanan borongan dari pembeli luar kota, misalnya Jogjakarta. Semua sockbreaker yang tersedia di kios-kios diborong termasuk stok punya Ujang. “Kata orang itu, membeli dari sini untuk dijual kembali di Jogjakarta. Bila membeli dari sini semua barang diborong,” kata dia belum lama ini.

Sockbreaker yang dicari pembali tidak hanya keluaran baru. Justeru banyak dicari pula sockbreaker sepeda motor tahun 70-an. Banyak pecinta motor jadul yang memodifikasi motornya dengan sparepart asli lama, karena sudah tidak ada sparepart baru di toko. Hargapun malah lebih mahal dari pada second yang baru-baru. “Banyak yang mencari sockbreaker sepeda motor tahun 70-an. Harganya malah lebih mahal karena barangnya sulit,” kata dia.

Sampai kini, Ujang bertekad akan terus menggeluti usaha tersebut. Meski setiap saat belepotan dengan oli, ia berprinsip, semua yang didapatkan halal serta barokah untuk menfkahi keluarganya. “Saya akan terus menjalankan usaha ini. Meski setiap hari pendapatan tidak terlalu besar, kalau dikumpulkan sebulan cukup besar. Saya juga pernah jadi buruh di orang lain, hasilnya jauh lebih besar dengan hasil kerja sendiri di sini,” ujar pria yang telah dikarunai anak tiga itu. (*)







2 komentar:

Peluang Usaha said...

Ide usaha yang inspiratif,menjadikan barang rongsok bisa jadi duit..hebat-hebat-hebaaat.

Marchella Winata said...
This comment has been removed by a blog administrator.