Home » » Pahlawan Keluarga, Ibu Martini Srikandi Penyapu Jalan

Pahlawan Keluarga, Ibu Martini Srikandi Penyapu Jalan



Kepahlawana dalam setiap situasi menemukan konteksnya. Jika zaman perang kemerdakaan Republik Indonesia (RI), istilah pahlawan identik dengan mereka yang berjuang angkat senjata bahkan gugur di medan tempur. Dalam konteks kekinian, menjadi pahlawan tidak lagi harus angkat senjata –kecuali tentara- melainkan mengisi kemerdekaan sebaik-baiknya. 
 Sebut saja, seseorang yang menyelamatkan orang lain dari bahaya. Bagi orang bersangkutan, kepahlawanan sang penolong lebih dirasakan kehadirannya ketimbang yang lain.
Ibu Martini
Hal yang sama berlaku dalam keluarga. Misalnya, anggota keluarga yang bekerja keras untuk menghidupi keluarga, biasa disebut pahlawan. Penggerak sosial yang menjadi inspirasi kemajuan komunitas, identik juga dengan sosok pahlawan.


Menyebut Pahlawan Keluarga di sini, salah satunya petugas penyapu jalan di Kota Tasikmalaya. Para petugas itu biasa disebut Srikandi Penyapu Jalan. Mereka semuanya perempuan bertugas membersihkan sampah di jalan.


Dari sekian orang srikandi penyapu jalan di Kota Tasikmalaya itu adalah Ibu Martini. Sudah hampir dua tahun ia bertugas. Motivasi Ibu Martini menjadi pekerja kebersihan, supaya bisa membantu suaminya mencari nafkah dan meujudkan cita-cita keluarga kecilnya.


Ia berharap, anaknya yang kini duduk di bangku kelas 2 SMK dan SD kelas lima mampu dibiayainya. Penghasilan suaminya tidak menentu sehingga ia memutuskan bekerja meski setiap hari kepanasan bahkan kehujanan.


Namun demikian, ia tetap tidak melupakan kewajiban utama sebagai ibu rumah tangga. Ia tetap mengerjakan pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci bahkan mengurusi anak.


Cara membagi waktu,  jika ia mendapat jadwal kerja pagi, mengerjakan pekerjaan rumah di siang hari. Ia bekerja selama 5 jam sehari. Jika bagian pagi mulai pukul 05:30 - 10:30. Jika bagian siang, dari jam 10:30 - 03:30.  Menurutnya, dari hasil bekerja lumayan membantu perekonomian keluarganya.


Banyak suka dan duka bekerja sebagai petugas kebersihan. Selain harus berangkat pagi-pagi, juga harus akrab dengan bising deru mesin kendaraan di jalan raya, asap, debu bahkan kepanasan atau kehujanan.




Namun sukanya, ia bisa memberi konstribusi terhadap kota tercintanya. Membersihkan jalan supaya tetap terlihat indah dan sehat. Ia berharap, warga kota turut serta melestarikan kebersihan, dengan tidak membuang sampah sembarang.


“Kebersihan bukan hanya tanggungawab petugas. Melainkan tanggungjawab semua warga.  Apalagi kebersihan itu bagian dari pada iman,” katanya.

0 komentar: