Cara Mudah Jadi Agen dari “Pojok Pulsa”

Pulsa kini sudah menjadi kebutuhan pokok. Sekalipun tidak menggantikan kebutuhan dasar makanan-minuman, tingkat konsumsi pulsa seseorang bisa melebihi konsumsi makanan pokok sehari-hari setiap bulannya.

Konsumsi pulsa lebih besar lagi karena saat ini setiap orang nyaris punya 2 - 5 gadget yang semuanya harus diisi pulsa. Paling minimalis, 1 hadphone untuk telpon dan SMS, 1 gadget untuk mobil online dan 1 lagi gadget koneksi internet melalui computer dan laptop dengan sambungan modm.  Penggunaan operator pun bermacam-macam, CDMA atau GSM, menjadi layanan yang saling mengisi.  

Jika 1 gadget saja harus diisi minimal Rp50.000 per bulan, untuk 3 gadget satu bulan menghabiskan uang minimal Rp150.000. Belum lagi jika ada kebutuhan mendesak dalam berkomunikasi, seperti lobi bisnis, kontak keluarga yang sedang musibah atau keperluan mendadak, kebutuhan pulsa tidak cukup bajet bulanan. Selagi ada uang, pulsa harus ekstra.

Bandingkan dengan konsumsi beras, Rp150.000, bisa membeli beras kualitas bagus stok satu bulan anggota keluarga kecil. Sebuah potensi cukup besar bagi para peminat bisnis. Mungkin dari peluang hitungam kasar di atas, kini marak penjual pulsa elektrik, mulai konter besar hingga konter berjalan. Kondisi ini semakin meriah didukung layanana operator selular yang memanjakan pelangannya dengan tarif yang kompetitif. Bukan hal yang aneh, di gunung atau di tengah hutan bisa telpon ria, update status di jejaring sosial terkait kondisi yang dialaminya.

Aktifits semua itu tidak lepas dari kebutuhan pulsa. Tanpa pulsa, semahal dan secanggih apapun gadget tidak akan bisa digunakan. Dengan siap siaga pulsa, pengguna bisa aksis, narsis dan saling memberi kabar di mana saja dan kapan saja.

Perkambangan gaya hidup yang sedemikian revolusioner diimbangi pula dengan infrastrukrut layanan dari perusahaan penjual pulsa. Kondisi ini akan memudahkan konsumen pulsa, juga memberi peluang kepada pelaku usaha untuk menjajal bisnis pulsa. Tidak perlu punya konter atau peralatan khusus, cukup dengan handphone jadul, setiap orang bisa jualan pulsa.

Saya sering melihat, anak-anak SMA, jual pulsa kepada teman-temannya atau kepada para karyawan tempat mereka magang. Begitu akhir bulan musim gajian, pulsa ditagihkan. Keuntungan yang dia ambil rata-rata Rp500-Rp1000 per transaksi bahkan lebih. Anak SMK tersebut sudah belajar usaha memutarkan uang yang dia punya dengan modal telpon genggam yang digunakan sehari-hari dengan pasar teman dan kenalannya. Hal yang sama para ibu-ibu di kompleks atau para bendahara perusahaan dan tata usaha, menyuplai kebutuhan pulsa bagi tetangga dan karyawan internalnya.    

Usaha jual pulsa model anak SMK tersebut sangat memungkinkan karena berbagai dealer memberikan kemudahan bertransaksi. Depositpun cukup ringan, mulai Rp50.000 sebagai modal awal, jualan pulsapun mulai berjalan.

Cara transaksi semakin canggih. Layanan SMS banking, internet bangking atau ATM dan fasilitas perbankan lainnya, mumudahkan para agen menyimpan deposit. Dengan SMS banking misalnya, transfer cukup di handphone tanpa antre di bank. Demikian juga untuk menjadi member penjual pulsa, tidak lagi memerlukan tatap muka, cukup SMS dan keagenan jadi.

Di Pojok Pulsa misalnya -salah satu web server pulsa elektrik dan menyediakan keagenan pulsa tersebut - sejak daftar dan deposit tidak harus bertatap muka.  Jadi  agen cukup daftar melalui SMS. Sebuah cara yang cukup mudah dan boleh jadi menyenangkan.

Cukup ketik REG*NAMA*NomorHP*KOTA
Contoh : REG*WAWAN CELL*081216060600*JAKARTA
Kirim ke : 0877 8256 9123  setelah itu aka nada konfirmasi kemudian ikuti  perintah selanjutnya. Untuk lebih jelas bisa dibuka di sini. 

Menarik juga, di Pojok Pulsa bukan sekedar jualan konvensional, layaknya konter biasa. Anggota bisa mengembangkan usaha dengan membantuk downline. Tetapi ini berbeda dengan system Multi Level Marketing (MLM) pulsa yang beberapa tahun terakhir sempat buming. Desain downline Pojok Pulsa akan memberikan keuntungan yang terukur bukan sekedar janji manis.

Dengan demikian ada dua keuntungan yang bisa diambil seorang agen Pojok Pulsa. Pertama dari penjualan langsung kepada konsumen akhir dengan harga dasar cukup murah. dan kedua keuntungan dari downline setiap melakukan transaksi penjualan.

Bagaimanpun, pulsa kini sudah menjadi kebutuhan yang tidak bisa dipisahkan dari aktifitas manusia. Tak ada salahnya jika kita mengikuti tren menjadi agen pulsa atau sekedar mencari pulsa murah untuk keperluan diri sendiri dan keluarga dengan cara deposit pulsa. Barangkali di sinilah urgensinya layanan Pojok Pulsa, memberikan kemudahan serta peluang usaha jual pulsa yang akan terus dibutuhkan dalam aktifitas manusia modern. (*)  


Postingan ini dalam rangka Lomba Blog Pojok Pulsa:
Mau Pulsa Gratis? Follow: @pojoktweet | Facebook Page Pojok Pulsa | Pojok Pulsa Google Plus Page

“Ngeri-ngeri Sedap”, Mahluk Seram Bersenjata Tombak dalam Ceret

Saat kecil senang sekali mengacak-acak tumpukan buku di rumah kakek yang seorang pensiunan PNS jabatan terakhir  kepala sekolah Madrasah Ibtidaiyah (MI). Beberapa koleksi buku tersimpan di rumah karena di sekolah tidak ada tempat untuk menyimpan. Gedung sekolah alakadarnya, meski sudah menggunakan tembok dan genting, tidak terlalu aman untuk menyimpan buku-buku bacaan.

Saat itu saya belum masuk SD. Buku yang menarik perhatian saya, sebuah buku yang terdapat gambar syetan di dalam ceret. Penasaran sakaligus takut melihatnya. Mahluk itu berwarna merah bertanduk dan memegang tombak mukanya menyeramkan. Saya berfikir, jangan-jangan setiap ceret yang digunakan di rumah untuk menampung air ada mahluk seperti itu. Kakak-kakak yang sudah bisa membaca hanya menakut-nakuti tidak menjelaskan yang sebenarnya pesan dari gambar.

Perpustakana pribadi di rumah untuk si kecil
Sebenarnya, gambar itu memberi penjelasan, jika air minum dalam ceret tidak dimasak, kuman atau virus yang divisualisasi mahluk menyeramkan akan menyerang kesehatan manusia. Jadi sebelum air diminum harus dimasak terlebih dahulu.

Waktu kecil saya juga cukup heran, mengapa kakak-kakak dan teman-teman yang sudah masuk sekolah bisa memahami rangkaian huruf yang tidak saya fahami. Saya selalu mencoba bertanya, apa maskud rangkaian huruf tersebut juga keterkaitan dengan gambar.

Dapat dipahami, seusia itu, saya sedang mengalami serba ingin tahu dan mencoba menangkap pesan visual dan memahaminya. Dari kepenasaran itu, saya sering menyelinap di rak yang penuh buku mencari apa saja yang bergambar, baik yang dianggap menakutkan maupun gambar-gambar yang menyenangkan.

Saya juga sangat terkesan dengan buku Bahasa Indonesia kelas 1 SD. Kalau tidak salah bacaannya begini :

Ini budi
Ini adik budi
Ini kaka budi
Ini ibu budi
Ini bapak budi
Ibu memasak di dapur
Ayah berangkat ke kantor

Saat masuk kelas 1 MI/SD saya mendapat buku tersebut gratis atau tepatnya dipinjamkan seperti buku dari Bantuan Operasional sekolah (BOS) saat ini. Buku harus dikembalikan jika memasuki kelas berikutnya. Hanya saja, buku tersebut hilang dan tidak sempat saya kembalikan.

Sayang mamasuki SD, rasanya sangat jarang menemukan buku-buku.  Sekolah tidak punya perpustakaan yang cukup, buku pun hanya bacaan pokok yang jumlahnya sangat terbatas. Barangkali keterbatasan sekolah di pelosok daerah diraskan juga oleh anak-anak sezaman dengan saya. Iklim politik ketika itu masih sangat kooptasi dari rezim penguasa, sumber bacaan sengat ketat dan terkontrol.  

Berbeda dengan kondisi sekarang. Anak-anak sudah dilimpahi berbagai buku bacaan. Usia TK sudah hafal angka dan bisa membaca. Meski secara teori, anak TK tidak boleh calistung, tetap saja sekolah menjejali anak dengan buku-buku juga hafalan.

Anehnya lagi ketika masuk SD, beberapa sekolah memberlakukan sertifikat lulus TK dan mensyaratkan sudah bisa membca.  Di lain pihak sebagai orang tua tentu merasa bangga, anak seusia kita dulu belum bisa baca dan menulis, mereka kini sudah mahir.

Perlahan, saya mencoba memperkankan buku kepada anak meski sebatas memperlihatkan dan berkisah berbagai cerita didalamnya. Misalnya kisah seribu satu malam atau kisah yang cocok dengan usianya yang baru 5 tahun. Sengaja, koleksi buku saat kuliah disimpan di lemari terbuka supaya mudah terlihat. Itung-itung perpustakaan pribadi meski koleksi sangat terbatas.  

Sungguh surprise bagi saya, ketika suatu sore si cikal memberi bungkusan mainan yang dia sebut sebagai kado. Katanya, ini kado buku buat ayah, karena ayah suka buku. Ia pun membuka bungkusan itu dan sebuah kertas kumel bertuliskan “kado buku buat ayah”.

Saya jadi teringat saat kecil dulu seusia anakku kini, sering mengacak-acak buku yang belum dapat memahami huruf-huruf didalamnya. Sementara anakku, sudah mampu menyampaikan pesan hasil tulisan tangannya sendiri. Saya hanya bersyukur dan berdoa,  dalam hati, semoga bisa menyiapkan buku-buku berkualitas untuk bacaan anak-anak supaya mereka terbiasa membaca. (*)