Pilar Ekonomi Syetan Vs Alternatif


Dalam buku “Satanic Finance, True Conspiration,”, penulis A Riawan Amin menyebutkan, ada tiga pilar keuangan yang menyebabkan bencana perekonomian dunia. Pertama, fiat money atau penggandaan uang. Kedua fractional reserve requirement (FRR) dan ketiga interest atau bunga. Riawan Amin yang kini menjabat Direktur Utama Bank Muamalat Indonesia (BMI) itu menyebutnya, ketiga pilar ekonomi moneter dunia ini sebagai tiga pilar ekonomi syetan (satanic finance).

Disebut pilar ekonomi syetan, lantaran sistem ini perlahan tapi pasti akan memperpuruk umat manusia terperosok pada lubang utang yang membebani karena uang menumpuk pada segelintir orang atau kelompok. Pinjaman uang yang semula manis bagaikan madu, akan menjadi pahit melebihi racun.

Dengan pasti, utang akan mewariskan kemiskinan kemudian membunuh umat manusia dengan kejam tanpa darah tercecer. Akibatnya, utang dalam perspektif individu maupun negara, suatu saat menjelma menjadi penjajahan baru yang membuat individu atau negara yang berutang tak berdaya bahkan menjadi budak. Contoh, saat harga dolar naik terhadap rupiah, masyarakat Indonesialah yang menangggung kenaikan harga akibat harga BBM naik, mengingat transaksi dunia atas BBM hanya dilakukan dalam US dolar dan sedikit saja dengan Euro.


Mari jelaskan satu persatu tiga pilar syetan tersebut. Fiat money, atau pencetakan uang telah menjadi sistem moneter dunia. Pada awalnya, penerbitan uang kertas di sebuah negara semestinya di back up penuh oleh logam mulia (emas atau perak). Misalnya, uang yang dicetak dalam angka kertas Rp100 ribu menunjukkan emas senilai Rp100 ribu yang disimpan di bank. Dengan legalisasi pemerintah, meski uang kertas tanpa back up emas atau perak akan tetap berharga sesuai angka yang ditulis.

Celaknya, bila terlalu banyak uang dicetak, membuat barang-barang riil menjadi mahal dan itulah yang disebut para ekonom dengan istilah inflasi. Di mana nilai tukar uang sangat lemah dibanding dengan barang-barang yang tersedia. Lebih jauh, seandainya pemerintah yang sah kehilangan kepercayaan, angka yang tertulis dalam uang kertas tersebut semata-mata angka, tidak ada nilainya. Krisis di Indonesia tahun 1997 mendongkrak 1 US dollar mencapai angka 18.000 terhadap rupiah.

Berikutnya fractional reserve requirement (FRR). Secara sederhana, FRR dapat diartikan sebagai uang cadangan yang disimpan di bank sentral. Cadangan tesebut biasanya Rp10 persen dari keseluruhan uang deposan. Dengan prosedur FRR, jumlah uang deposan bisa menghasilkan tambahan uang yang dicetak pemilik otoritas keuangan sebanyak 900 persen. Misalnya, kalau ada uang dari deposan Rp10 ribu (original doposit), melalui prosedur FRR --karena uang tersebut diangap sepuluh persennya dari uang yang beredar-- maka bank sentral mencetak uang melalui fiat money (pencetakan uang) sebesar Rp90.000. Luar biasa besarnya.

Pilar berikutnya adalah interst atau bunga. Bunga dalam sistem perekonomian modern sangat lumrah bahkan dianggap mampu menggerakan perekonomian. Semua lembaga keuangan konvensional hidup dari membungakan uang. Alasan pemberlakuan bunga, lembaga keuangan memerlukan cost operasional agar keberlangsungannya terus terjaga.

Ada tiga konskuensi penerapan bunga. Pertama, bunga akan menuntut tercapainya pertumbuhan ekonomi secara terus menerus meskipun perekonomian aktual sudah mencapai titik jenuh atau konstan. Kedua, bunga mendorong persaingan di antara para pemain sebuah ekonomi. Ketiga, bunga cenderung memposisikan kesejahteraan pada segelintir minoritas dengan memajaki kaum mayoritas. Dengan demikian, sistem bunga ini bukannya medorong kesejahteraan seperti yang diharapkan para ekonom, namun menenggelamkan manusia pada utang yang berlipat. Dalam sistem ekonomi syariah, bunga masuk kategori riba dan hukumnya haram.

Dalam kasus krisis Indonesia yang menyisakan utang membengkak, setiap tahun dana APBN tersedot antara 20-30 persen untuk membayar cicilan pokok dan bunga, baik utang negara maupun utang swasta. Pada tahun 2006, total utang pemerintah Indonesia mencapai Rp1.200 triliun.

Sedangkan dalam kasus kris global yang melanda sistem moneter Amerika saat ini, akibat kredit perumahan rakyat yang gagal terbayar. Ini karena nilai kredit jauh dengan nilai uang yang harus dibayar oleh pengambil rumah akibat bunga-berbunga yang jumlahnya terus melambung tinggi menjauhi nilai riil rumah tersebut.

SISTEM EKONOMI ALTERNATIF
Bencana krisis ekonomi dunia sedikit banyak membukakan mata, bahwa harus ada sistem ekonomi alternatif yang diharapkan dapat memberi solusi atas keterpurukan ekonomi ini. Muncul perbankan syariah sebagai instrumen sistem ekonomi islami. Namun terhadap sistem ini masih banyak nada yang ragu-ragu bahkan sinis, termasuk beberapa intelektual muslim. Ini dapat dipahami, karena sistem perbankan syariah baru muncul ke permukaan beberapa dekade terakhir.

Selain itu, kritik muncul kepada para pelakunya yang dinilai belum mampu merepresentasikan, bahwa bank syariah betul-betul beda dengan perbankan konvensional. Dalam anggapan publik –terutama yang kecewa—menyebutkan, “praktik bank syariah sama dengan bank konvensional”. Hal ini wajar terjadi, mengingat perbankan syariah di Indonesia masih relatif baru, yakni dimulai saat didirikan Bank Muamalat Indonesia (BMI) tahun 1982.

Kritik ini dapat dipahami dari beberapa aspek. Pertama aspek sumber daya syariah (SDS). Adakalanya, para pelaku perbankan syariah hanya menjalankan sistem yang sudah tersedia tanpa dia memahami prinsip-prinsip operasional perbankan syariah secara esensial. Ini ada korelasinya dengan sebuah penelitian dari UI tahun 2006, bahwa SDS perbankan syariah di Indonesia 75 persen lulusan pendidikan bukan berbasis syariah. Artinya, SDS lulusan pendidikan syariah sebesar 25 persen saja. Secara tidak langsung kondisi ini akan mempengaruhi perilaku praktik di perbankan syariah sehari-hari, mengingat dari SDS yang 75 persen tersebut sebagian merupakan jebolan perbankan konvensional yang pindah kerja.

Kedua, aspek regulasi. Sebelum diterbitkan Undang-Undang Perbankan Syariah Nomor 21 tahun 2008, regulasi perbankan syariah masih satu paket dengan UU Perbankan Konvensional yakni UU No10/1998 tentang Perbankan. Dalam UU 10/98 ini disebutkan bahwa perbankan boleh menjalankan dual sistem banking, yakni sistem syariah (bagi hasil) dan non syariah yang berbasis interest (bunga).

Sedangkan dalam UU 21/2008 lebih tegas, bukan saja mencantumkan cara mengatur dan perizinan perbankan syariah, namun mengatur cara penyelesaian persengketaan di perbankan syariah juga mengatur pembentukan komite perbankan syariah. Perlu diingat, dalam penyelesaian sengketa di perbankan syariah, sebelumnya menjadi kendala tersendiri.

Ketiga, paradigma perbankan konvensional (bunga) sudah sedemikian melekat di masyarakat. Dari pengakuan para pekerja perbankan syariah, saat calon mitra membutuhkan uang untuk modal usaha, yang pertama kali ditanyakan adalah berapa persentase pengembalian pinjaman. Biasanya, calon nasabah (mitra) cenderung ingin piksed berapa kelebihan yang harus dikembalikan ke bank layaknya bunga.

Namun selain kritik di atas, sistem perbankan syariah juga harus diakui mampu membuktikan kehandalannya. Salah satunya tahan terhadap badai krisis yang memporakporandakan sistem moneter Indonesia pada tahun 1997. Saat itu, tak kurang 16 bank dilikuidasi dan operasionalnya diambil alih oleh pemerintah.

Apa yang menyebabkan kehandalannya? Salah satu jawabannya, karena sistem bagi hasil (profit sharing). Keunggulan profit sharing ini karena antara bank dengan kreditur statusnya mitra yakni antara pengusaha dan pemilik modal (mudhorib dan sohibul mal). Dengan demikian, pihak bank memperoleh keuntungan bukan didasarkan pada bunga dari jumlah uang yang dipinjamkan, melainkan dari bagi hasil atas keuntungan pengusaha berdasarkan nisbah yang ditentukan sebelumnya.

Para ekonom sering menyebut ekonomi berbasis syariah ini dengan sistem ekonomi alternatif. Namun sistem ini baru pada tahapan perang dalam satu pilar ekonomi menoter yang berlaku saat ini, yakni memererangi interes semata melalui sistem perbankan syariah yang tersedia. Sedangkan pada fiat money (penggandaan uang) serta fractional reserve requirement (FRR) masih jauh panggag dari api.

Artinya, para pelaku ekonomi syariah atau pegiat ekonomi syariah masih harus bekerja keras untuk menciptakan sistem ekonomi alternatif ini sehingga dapat dianut oleh ekonomi masyarakat dunia. Misalnya, mengembalikan alat tukar dengan logam mulia atau setidaknya pencetakan uang kertas di back up sepenuhnya dengan logam mulia yang setara serta menghilangkan bunga.

Demikian juga perkembangan perbankan syariah sebagai salah satu penopang sistem perekonomian islami harus dibarengi dengan langkah-langkah yang tepat. Sehingga kritikan yang selama ini dihembuskan atas praktik-praktik perbankan syariah sedikit banyak tertangkis dengan pelaksanaan operasional perbankan yang menjamin asas keadilan serta menguntungkan dibarengi kinerja profesional. “Bank syariah, bukan sekedar bank,” demikian tagleg sebuah iklan di TV. Wallohualam bissowab. (*)

Artikel ini telah dimuat di Koran Pikiran Rakyat Edisi 29 Februari 2009

Masjid Chenghoo, Masjid Pertama di Indonesia Dinamai Orang China

Cheng Hoo, dikenal sebagai laksamana dan bahariawan dari daratan China yang sangat tangguh. Ia bersama 28.000 prajurut dengan 300 armada kapal berhasil mengarungi planet bumi melalui samudera hingga tujuh kali putaran. Dalam pelayaran perdamaian atas perintah kekaisaran Ming itu, Cheng Hoo sempat menginjakkan kakinya di tanah kekuasaan Majapahit antara tahun 1406-1409 M.

Belakangan nama Cheng Hoo begitu dikenal di masyarakat tanah air setalah film Cheng Hoo yang disyuting di tiga negara dan dibintangi mantan Mensesneg RI Yusrul Ilza Mahendara dan Safullah Yusuf selesai dibuat.


Tidak hanya itu, kebesaran nama Cheng Hoo juga memberi inspirasi kepada warga Tionghoa muslim di Surabaya untuk mendirkan yayasan dan bangunan masjid dengan nama Masjid Muhamad Cheng Hoo. Agak kurang sreg memang, dengan nama masjid ini. Telinga kita terlalu diakrabkan dengan nama-nama masjid dalam bahasa arab atau campuran bahasa arab-Indonesia.

Kesan kita selama ini terbangun, keislaman atau yang berbau Islam erat sekali hubungannya dengan bahasa dan dunia arab, baik dalam sastra, terutama tradisi-tradisi keagamaan. Sehingga di benak kita, hal-hal yang berbau Tionghoa sudah sangat identik dengan kelenteng atau kepercayaan Tao bahkan identik dengan ritual membakar dupa dan kemenyan.


Namun tidak demikian jika berkunjung ke Masjid Muhamad Cheng Hoo di Surabaya. Masjid yang didirikan tahun 2002 dan diresmikan oleh Mentri Agama RI Prof KH Agil Syiraz Almunawar itu, mulai lantai hingga kubah sama sekali tidak menunjukkan arsitektur timur tengah. Seperti lengkungan kubah yang sangat mudah dijumpai di masjid-masjid.


Berkunjung ke masjid ini tidak terlalu sulit. Selain di peta sudah tercantum, letaknya tidak jauh dari Stasiun Gubeng-Surabaya. Bila menggunakan jasa taksi dari Stasiun Gubang paling menghabiskan perjalanan 10 menit. Alamat lengkapnya, di Jalan Gading Nomor 2 Surabaya. Memang posisinya agak menjorok di pemukiman warga. Saat itu juga, penulis dan rekan-rekan sempat salah masuk jalan.


Jika masuk dari arah timur, masjid ini tidak terlalu kentara karena terhalang gedung yayasan dan kantor pengurus. Namun jika dari arah selatan, meski terhalang dinding tinggi, puncak masjid terlihat hijau dan merah menyala.

Jalan menuju masjid ini hanya satu pintu yang dijaga oleh beberapa satpam.

Tak banyak tanya satpam di sana. Mungkin karena terbiasa, atau memang menujukkan bahwa masjid ini sangat terbuka dikunjungi siapapun, termasuk pengunjung non muslim. Saat itu, ada remaja yang berkulit putih dan komunikasinya menggunakan bahasa China. Mereka leluasa mengambil foto bahkan dengan bebas masuk ke ruang utama masjid.


Memasuki kompleks masjid, di sebelah kanan terlihat WC berjajar dengan atap berarsitektur China. Tteapi pagar di sekeliling, seperti halnya pagar masjid atau perkantoran pada umumnya. Menggunakan kawat yang dianyam dan tinggi sekitar tiga meter.


Masjid berukuran 11 X 12 meter persegi ini, didominasi warna merah dan kuning serta hijau, layaknya warna klenteng-klenteng di tanah air. Dari arah depan, warna merah tersebut nampak mencolok. Namun dari dua tangga kiri kanan, sangat kentara tulisan kaligrafi arab menggunakan bahan kuningan, berdiameter sekitar satu meter. Kaligrafi ini jika dibaca ternyata isinya bismillahirrohmaanirroohim.


Dominasi warna merah juga terdapat dalam lespang di setiap undak bangunan. Ada tiga tingkatan atap masjid ini. Jika dilihat dari atas akan terlihat seperti jaring laba-laba. Di antara atap ke tiga dan empat, dalam ukiran kaca diisi dengan kaligrafi sifat-sifat Allah yang 20. Mulai sifat wujud hingga sifat mutakaliman. Sifat-sifat ini yang menjadi pegangan logika ilmu kalam yang dicetuskan Asyariyah yang banyak dianut di Asia Tenggara termasuk di Indonesia yang beraliran “ahlusunnah waljamaah”. Sementrara itu, di pinggir kanan masjid terdapat realif Laksamana Chengho beserta perahu yang menjadi armada pelayaran Cheng Hoo mengelilingi dunia.


Gambaran yang menunjukan tradisi China juga terdapat beduk yang bentuknya seperti beduk-beduk yang digunakan dalam pertunjukan barongsai. Beduk tersebut disimpan di pintu masuk sebelah kanan dan bagi yang postur tubuhnya tinggi, beduk itu bisa tersundul.


Beduk di masjid atau mushola di pulau Jawa sudah biasa dan fungsinya tidak berbeda dengan beduk di masjid Cheng Hoo. Yakni, untuk pertanda masuknya waktu shalat, selain dengan lantunan suara muadzjin.


Suasana China juga sangat terasa saat masuk ke dalam masjid yang terdiri dari dua tangga tersebut. Di antara ruang istirahat dan ruang utama masjid ini dipisahkan dengan pagar besi tempa yang mengesankan dibuat ratusan tahun lalu. Terlihat sangat kokoh dengan ukiran khas China, ikurannya mirip kepala barongsai juga kotak-kotak yin dan yang. Dinding belakang dan depan terbuat dari bata-bata yang tidak diplester namun terlihat ditata apik. Warna catnya, merah bata menyala dan terlihat lekak-lekuk antra bata-bata yang tersusun dicorok itu. Sementara seluruh tiang, terlihat tinggi menjukang dan dikakinya dilapisi besi tempa yang mengesankan bangunan kuno.


Namun naunsa arab agak terasa jika kita memalingkan penglihatan ke atas masjid. Meski dari luar terlihat bangunan China, namun dari dalam ini terliat lengkungan kubah yang kiri kananya bertuliskan asmaul husna yang 99. Kaligrafi seperti ini sangat mudah ditemukan pada lukisan masjid-masjid di tanah air.


Mengapa diberi nama Masjid Muhammad Cheng Hoo? Pengurus Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Jawa Timur yang juga imam masjid Cheng Hoo, Ustad H Haryono Oong menjelaskan, nama tersebut sebagai salah satu bentuk penghargaan atas kebesaran Choing Hoo yang telah berlayar menyuarakan perdamaian ke penjuru dunia termasuk ke Kerajaan Majapahit saat itu. Sedangkan bentuk masjid katanya, diadopsi dari sebuah masjid di Kota China. Namun dia, di China sendiri tidak ada masjid bernama Masjid Muhammad Cheng Hoo. Sehingga masjid ini diyakni merupakan masjid pertama di dunia yang diberi nama Muhamad Cheng Hoo.

Selain masjid di bawah yayasan PITI tersebut, di lokasi yang sama, terdapat lembaga pendidikan TK dan TPA. Murid TK di sini tidak semunya bergama Islam. Kata warga keturunan lulusan IAIN Sunan Ampel Surabaya ini, sekitar 10 persen muridnya non muslim. (*)

Cobalah Menulis dari Sekarang

Bagi sebagian besar pelajar, menulis masih menjadi pekerjaan yang susah. Ini karena, menulis dirasakan sebagai pekerjaan yang luar biasa rumitnya, melebihi pekerjaan yang paling rumit sekalipun. Namun di lain pihak, kita juga menyaksikan, tak sedikit pelajar yang sudah pandai mengeluarkan gagasannya melalui tulisan, dalam bentuk cerpen, novel atau berita (news) meski publikasinya masih terbatas di lingkungan sekolah. Tak jarang pula, pelajar yang aktif di media massa mengisi kolom pelajar atau remaja, yang disediakan oleh media massa tempat di mana pelajar itu aktif.
Desti Pertiwi, pelajar kelas 2 SMAN 5 Tasikmalaya misalnya. Ia setiap hari Sabtu menulis berita tentang aktifitas di sekolah dan remaja di halaman Go To School Radar Tasikmalaya. Halaman tersebut terbit setiap hari Selasa --penulisnya semua pelajar-- termasuk Desti di dalamnya.
Selain Desti, ada juga Lisna, masih pelajar kelas 2 SMAN 5 Kota Tasikmalaya. Setip hari Sabtu pula, Lisna membuat berita, tak pernah ada istilah kosong berita atau tidak ada ide. Ada saja gagasan yang mereka ekspresikan melalui tulisan yang adakalnya di luar pemikiran orang-orang dewasa. Mulai permasalahan remaja hingga masalah cara pengajaran guru di sekolah yang terkadang membuat pelajar bosan. Mereka mengkritik, memuji atau sekedar mengomentari.
Selain menulis berita, mereka secara bergantian menulis cerpen atau resensi. Meski masih sederhana, namun dari tulisan meraka itu menujukkan, siapapun, kalau mau menulis pasti bisa. Sesibuk apapun, sesempit apapun waktu. Saya tahu, mereka aktif di Rohis, OSIS, bahkan organisasi ekstra kurikuler (ekskul) lainnya. Tetapi, tulisan mereka selalu nongol di halaman Go To School edisi Selasa itu.
Desti menuturkan, awalnya, ia senang menulis karena terobsesi dengan para penulis besar yang bukunya mencapai peringkat best seller. Ia menyebut, sangat termotivasi dengan karya fenomenal “Ayat-Ayat Cinta” karya Habiburrohman El-Siraji (HES). Selain itu buku-buku lain karya HES, seperti “Di Atas Sajadah Cinta”, “Ketika Cinta Bertasbih” dan “Ketika Cinta Berbuah Surga.”
Kisahnya juga, sebelumnya, ia sangat tertarik dengan novel-novel Asma Nadia, novelis perempuan yang buku-bukunya selalu digemari remaja. Misalnya, serial “Aisyah Putri”. “Aku belajar menulis, karena terobsesi ingin menjadi penulis seperti penulis yang karya-karyanya pernah aku baca,” kisah gadis berkerudung besar yang juga berkaca mata ini.
Namun kisah Desti, berbeda dengan kisah salah seorang calon wartawan. Sebut saja Andi. Andi dua kali mengikuti seleksi menjadi wartawan di media lokal berjarigan nasional. Dua kali pula ia gagal tak diterima. Namun suatu saat, koran tersebut membutuhkan wartawan secara cepat tanpa melalui rekrutmen secara terbuka.
Manajemen koran itu mencari sarjana yang dianggap punya semangat. Dipilihlah jalan pintas, mengontak sarjana yang masih nganggur. Akhirnya Andi dipanggil melalui temannya. Keesokan harinya, ia diwawancarai dan diperbolehkan mencoba meliput berita dengan bit (lokasi liputan) yang ditentukan. Ia tidak sendiri, namun ditemani wartawan yang diangap sudah senior untuk mendampingi Andi.
Sore di hari pertama. Ia datang dengan muka lelah. Ditanya redaktur desk, apa berita yang didapat? Calon wartawan itu mengeluh, belum dapat apa-apa. Kata redaktur, “tidak masalah, ini hari pertama”, sambil memberi tahu bagaimana cara membuat lead berita, enjel berita, memberi judul serta memberi tahu beberapa hal terpenting dalam membuat berita bagi pemula.
Hari kedua, ternyata calon wartawan tersebut tidak hadir. Tidak ada, kabar atau pemberitahuan, ia nampaknya mengundurkan diri. Dan hingga saat ini, calon wartawan itu benar-benar tidak nongol. Benar-benar mengundurkan diri.
Saya menyimpulkan, calon wartawan itu tumbang sebelum masa training berakhir. Masa training biasanya tiga bulan dan boleh diperpenjang kalau dianggap belum lulus. Namun mereka juga tetap diberi honor semestinya. Pemikiran saya, rekrutmen ini kesempatan besar yang jarang-jarang calon wartawan diminta bergabung tanpa proses seleksi yang ketat.
Saya merekomendasikan dia, karena dinilai memiliki pengalaman di organisasi selama ia menjadi mahasiswa. Alhasil pikir saya, dia sudah memiliki jaringan serta sedikit banyak mengatahui kondisi daerah. Biasanya, wartawan yang sudah lama tinggal di daerah besangkutan, akan lebih arif dan mengatahui banyak hal di daerah. Sehingga berita-beritanya hidup dan tidak dangkal.
Alasan lain memilih dia calon wartawan itu, karena gelar akademiknya sesuai kriteria, S-1. Gelar akademiknya lebih tinggi dibandingkan kru Go to School yang masih kelas dua atau tiga SMA. Namun dalam semangat, ternyata pelajar lebih memiliki obsesi dan mau belajar menulis ketimbang calon wartawan yang sudah sarjana itu. Kejadian serupa bukan satu atau dua kali, namun sering.
Meski tidak representatif dari semua persoalan sulitnya menulis, kisah di atas nampaknya bisa sedikit mewakili. Artinya, menulis tidak berarti harus bergelar sarjana atau gelar akademiknya tinggi. Namun sangat perlu, mencoba, mencoba, mulai dari yang sederhana, yang paling mudah dan pantang menyerah.
Dalam buku-buku motivasi menulis, sering dikisahkan, seorang penulis lepas di media massa, karyanya baru dimuat, saat ia mengirimkan tulisan yang ke 1000. Sebanyak 999 tulisan, semuanya teronggok di tong sampah redaksi.
Kisah di atas ada korelasi dengan pengalaman penulis yang hingga kini menjadi redaktur opini. Seringkali, penulis menerima SMS yang isinya menanyakan artikel yang dikirim melalui email siang hari, apakah dimuat edisi hari esok, lusa atau kapan?. Ada juga yang menelepon, meyakinkan, tulisannya sangat bagus, penting dan layak muat. Sehingga sayang, kalau tulisan itu tidak dimuat. Ada juga penulis yang mengaku kapok dan tidak akan lagi mengirim tulisan, karena tulisan yang pertama tidak dimuat. Padahal media juga punya kriteria tertentu, sebuah opini layak dimuat atau tidak. “Gagasannya tidak perlu bagus-bagus amat, yang penting mudah dibaca, bisa dimengerti maksudnya oleh pambeca,” kata saya suatu saat menjawab pertanyaan teman saya yang mengirim artikel. Dia sedang menempuh S-2 di Unpad. Saat itu, ia berkali-kali meyakinkan tulisannya bagus, yang sudah seminggu tidak dimuat.
Ia sempat berjanji, akan membuktikan, tulisannya akan nongol di halaman opini koran berskala regional. Namun sayang hingga kini tulisannya belum saya lihat.
MENCARI REZEKI DENGAN MENULIS
Buku fenomenal “Ayat-Ayat Cinta” karya Habiburrohman El-Siroji (HES) nampaknya menjadi perhatian para peminat buku novel dan pendakwah. Tak kurang dari ratusan ribu kopi, buku tersebut dijual sejak diterbitkan tahun 2004 silam. Lantas apa penghasilan buat penulisanya?
Artikel tulisan M Anwar Djaelani, pengasuh sebuah pondok pesantren di Jawa Timur, “Habiburrohman Fenomenal Penulis Kaya,” Radar Tasikmalaya Edisi 3 Maret 2008 menyebutkan, HES menerima royalti buku “Ayat-Ayat Cinta” dari penerbit sebesar Rp1,5 miliar. Sungguh jumlah yang pantastis.
Demikian juga dengan karya-karyanya Helma Tiana Rosa (HTR). Novelis yang dijuluki Majalah Tempo lokomotif penulis muda Indonesia itu, dari tulisan fiksi-fikisnya menerima royalti puluhan juta setiap bulan. Meski menjawabnya mencontohkan adiknya Asma Nadia yang minimal menerima royalti Rp30 juta setiap tiga bulan. Berarti, Helma Tiana Rosa menerima royalti lebih besar dari adiknya, karena bukunya lebih banyak dan ia penulis lebih senior dari Asma Nadia.
Bagaimana dengan penulis lainnya. Fauzhil Adhim misalnya, pengarang buku “Indahnya Pernikahan Dini”, “Mencapai Pernikahan Barakah” juga “Kado Pernikahan untuk Istriku” dan “Kupinang Engkau dengan Hamdalah”. Ternyata, bukunya yang meraih best seller itu, mampu mandatangkan royalti antara Rp15 juta-Rp25 juta per bulan.
Yang paling menggiurkan, penulis best seller “Harry Potter”. Kekayaan dia dari menulis buku bercerita sihir ini dilaporkan, melebihi kekayaan Ratu Inggris, Elizabeth II. Buku Hary Potter yang diterbitkan di 200 negara ini terjual sebanyak 250 juta eksemplar diterjemahkan ke dalam 61 bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Sungguh luar biasa.
Penulis mengutip semua itu semata-mata untuk contoh. Betapa dengan tulisan, orang bisa menjadi aman secara finansial, termasuk bagi pelajar dan mahasiswa.
Izinkan, penulis juga mengisahkan tentang rekan-rekan yang semasa kuliah di Jogjakarta hidup dari menerjemahkan, atau mengalihbahasakan buku. Ada teman asal Jawa Timur, yang mencukupi kebutuhan makan, beli buku dan biaya kuliah hanya dengan menerjemahkan. Semasa KKN, penulis kebetulan sekelompok dengan dia. Sihab nama mahasiswa itu, kuliah di jurusan Aqidah Filsafat Fakultas Ushuluddin IAIN Sunana Kalijaga. Selama KKN ia selesai menerjemahkan buku kecil bersisi tentang syair-syair karya Jalaludin Rumi, sufi dari timur tengah abad pertengahan.
Untuk menghasilkan terjemahan, memang ia meluangkan waktu ekstra, berdiam lama di depan kemputer sambil membolak-balik beberapa kamus. Bila rekan-rekannya main, ia rela sendirian mengeja hurup demi hurup karya maestro sufi itu. Namun hasilnya –meski honornya sering macet—cukup membantu dia dan bisa bertahan hidup di kota pelajar Jogjakarta.
Ada juga kisah rekan penulis yang lain. Namanya Sufri, asal Bukit Tinggi Sumatera Utara. Ia kuliah di Jurusan Ahwalus As-Sahsiyah Fakultas Syariah. Semesternya satu tingkat lebih atas dari penulis. Meski ia menjadi ketua organisasi ekstra kemahasiswaan, tetapi ia selalu meluangkan waktu untuk menerjemahkan. Berarti dia selalu menulis bukan? Waktu itu --kalau tidak salah-- bukunya tentang teologi Mutazilah, teologi Islam liberal yang terkadang banyak dicaci oleh penentangnya. Saat penulis akan meninggalkan Jogjakarta, Sufri akan menerjemahkan buku kedua.
Namun tentu, semua itu perjalanan mereka yang tidak harus mesti sama kita jalani. Semua orang, semua pribadi memiliki karakteristik cara untuk mulai menulis, termasuk penulis. Jujur, selama kuliah, penulis masih jarang menulis. Hanya saja pernah suatu saat, membuat resensi buku karya dosen tentang Ilmu Falaq menurut pemikiran Sadudin Djambek. Entah kebetulan atau memang layak muat, resensi itu diterbitkan di Kompas. Honornya cukup lumayan untuk saat itu, Rp350 ribu. Ukuran yang cukup besar bagi seorang mahasiswa dan penulis pemula. Tulisan itu menjadi awal yang memberi motivasi buat penulis.
Maka mesti dipahami, kita jangan dulu berharap, akan menjadi besar, sementara tidak pernah mencoba yang kecil. Jangan pernah bermimpi, tulisan kita akan menggemparkan pembaca saat diterbitkan di koran. Padahal mencoba menulis gagasan atau merangkai kata membuat kalimat di kertas saja tidak pernah. Tak mungkin akan muncul kalimat yang indah, kata-kata mutiara yang menyejukan, pemikiran yang revolusioner dan gagasan kita didengar dan dibaca orang, bila pena kita tidak pernah memulai dari hurup a hingga z atau 0 hingga 9 dalam lembaran kertas atau halaman komputer. Maka kunci menulis, mulailah apa yang ingin Anda tulis, meski itu hanya ranting yang jatuh atau sekedar daun yang tumbang. Mulailah dari sekarang. Cobalah…! (*)

Mutasi Pejabat Luar Biasa

Kamis, (5/2) Wali Kota Tasikmalaya melalui wakil wali kota melantik pejabat yang dirotasi dan mutasi. Mutasi ini pertama kali dilakukan oleh kepemimpinan Syarif Hidayat-Dede Sudrajat (Syadarajat) mengawali kinerja dalam 100 hari pascapelantikan 14 Desember 2007. Seperti dalam mutasi sebelumnya, terjadi pro dan kontra. Pejabat yang pro karena merasa dirinya mendapat posisi lebih bagus dari jabatan sebelumnya. Sedangkan yang kontra karena pejabat bersangkutan merasa jabatan yang dibebankan pada pundaknya ini lebih buruk dari sebelumnya. Pro kontra pun terus berlanjut bahkan mengundang polemik. Yang satu mengatakan adil dan yang lain mengatakan kurang adil bahkan merasa didzalimi. Namun ada yang berani terang-terangan ada juga yang diam-diam dalam hati.
Yang mengejutkan, mantan kepala UPTD Pendidikan Kecamatan Tawang berencana class action karena tidak puas dengan jabatan barunya itu. Meskipun dia beralasan, jabatan yang diemban saat ini kurang sesuai dengan latar belakang pendidikan dia. Demikian juga, selama ini dia berkiprah pada instansi pendidikan termasuk jabatan yang diembannya. Rencana class action akan menggandeng PGRI Kota Tasikmalaya. Namun sebelumnya, PGRI akan meminta klarifikasi kepada wali kota juga Baperjakat.
Kita sering mendengar, mutasi dan rotasi itu hal yang wajar juga sebuah mekanisme di sebuah instansi baik pemerintah atau instansi lain. Demikian juga, pergesaran jabatan sebagai konsekuensi seorang PNS yang bertugas melayani masyarakat di mana pun dia ditempatkan, secara prinsip dia harus siap. Aturan main mutasi sudah jelas, mulai yang tertulis hingga asas kepantasan sebagai bahan pertimbangan. Artinya, secara normatif, penempatan jabatan seseorang itu terkait dengan profesionalitas dan proporsionalitas. Lantas yang jadi pertanyaan, apakah memang pejabat yang menempatkan itu sudah melaksanakan aturan main? Jawabannya bisa ia bisa tidak.
Dikatakan ia, bila bertanya kepada orang yang merasa puas dengan jabatan yang kini diembannnya. Sedangkan orang yang tidak puas biasanya menuduh, tidak berdasarakan asas profesionalisme serta asas lainnya. Persis polemik dewan dari Fraksi Golkar yang kontra dengan dewan dari fraksi lain yang pro atau tidak bersikap atas mutasi kali ini.
Namun bila bertanya kepada pejabat yang diberi wewenang dan punya hak atas mutasi atau rotasi, akan menjawab, penempatan jabatan seseorang bukan berdasarkan pilih kasih. Semua berdasarkan kepentingan bersama serta aturan yang berlaku dan jauh-jauh dari kepentingan politik.
Namun rasanya, penempatan seorang pejabat di luar kepentingan politis sama sekali tidak mungkin. Apapun tujuan seseorang pasti memerlukan strategi dan politik tertentu. Seorang kepala daerah dalam mencapai visi dan misinya akan menjalankan strategi-strategi yang didorong oleh team work. Bila team work yang satu ke kiri yang satu ke kanan, akan sulit mencapai satu tujuan. Entah tujuannya baik atau buruk.
Dengan gembaran di atas, setiap kebijakan tidak mungkin seratus persen mulus atau disikapi adem ayem. Ada yang pro, kontra dan itu hal wajar dan meski disikapi dengan bijaksana pula. Namun hal ini pula menunjukkan, bahwa mutasi dan rotasi itu bukanlah hal yang biasa. Pepatah mengungkapkan, hal yang luar biasa itu manakala kebiasaan dianggap tak lagi biasa. Apakah respon berlebihan itu bukan sikap yang luar biasa? (*)

Arti Kebijakan dari Seorang Ayah

Sore itu, saya sedang menunggu obat untuk istri saya di sebuah apotik di Kota Tasikmalaya. Sudah menjadi ritual, menunggu apoteker meramu obat-obatan yang diberikan dokter cukup memakan waktu. Padahal waktu itu saya sedang mencuri waktu di sela-sela bekerja saya yang sore hari.
Acara-acara TV yang terpasang di ujung ruangan apotek, sedikitnya membuat rasa jenuh menunggu terobati. Mereka menyaksikan setiap acara mengurangi waktu. Benar sebuah pepatah, menunggu pekerjaan yang sangat menjemukan. Demikian juga saya saat itu, dengan waktu yang mepet, menunggu pun menjadi pekerjaan yang sangat menggelisahkan.
Tiba-tiba seorang pria masih muda datang tergesa-gesa, mengenakan peci hitam dan mengenakan baju putih. Di tangannnya menjinjing gantungan kunci dan masuk ruang tunggu opotik. Ia disambut seorang anak kira-kira usia 8 tahun sambil terungut-sungut. Si pria itu hanya berujar, "maaf aba terlambat". Sementara, ibu muda yang rupanya istri pria berpeci ini hanya tersenyum menyaksikan tingkah anaknya itu, sambil mengikuti suaminya menuju kendaraan di lokasi parkir.
Rupanya, pria muda berpeci itu ayah anak yang bersama ibunya menunggu dijemput. Entah ada halangan apa, dia terlambat dari jam yang dijanjikan. Namun yang menarik, meski anaknya cemberut dengan kelambanannya, ia malah tersenyum dan berulang kali minta maaf. "Seorang ayah yang bijak" kata saya dalam hati.
Mungkin, kekaguman bukan hanya dari saya. Seroang ibu yang sama-sama sudah hampir tiga perempat jam menunggu obat, tatapan matanya mengikuti keluarga kecil itu hingga ke luar ruangan. "Mungkin dia terkesan dengan kebijakannya," kata hati saya mengira-ngira.
Memang berat rasanya, kita meminta maaf terhadap orang yang kita rasa posisinya di bawah. Baik kepada bawahan kerja, keluarga serta orang yang strata sosialnya dianggap lebih rendah. Kita juga sering bersikap kurang proporsional memperlakukan orang yang belum tahu asal-usul serta statusnya. Rasanya kita ingin selalu benar, menang serta selalu berkuasa juga dihormati. Padahal tanpa menujukkan sikap berkuasa atau menunjukkan keluhuran budi, jika sikap kita sudah proporsional menghormati orang lain, tanpa diminta pun penghargaan itu datang sendiri. (***)

Kebijakan Seorang Ayah

Sore itu, saya sedang menunggu obat untuk istri saya di sebuah apotik di Kota Tasikmalaya. Sudah menjadi ritual, menunggu apoteker meramu obat yang diberikan dokter cukup memakan waktu. Padahal waktu itu saya sedang mencuri waktu di sela-sela bekerja yang sore hari.
Acara-acara TV yang terpasang di ujung ruangan apotek, sedikitnya membuat rasa jenuh menunggu terobati. Para pengunjung menyaksikan setiap acara mengurangi waktu. Benar sebuah pepatah, menunggu pekerjaan yang sangat menjemukan. Demikian juga saya saat itu, dengan waktu yang mepet, menunggu pun menjadi pekerjaan yang sangat menggelisahkan.
Tiba-tiba seorang pria masih muda datang tergesa-gesa, mengenakan peci hitam berbaju putih. Di tangannnya menjinjing gantungan kunci dan masuk ruang tunggu opotik. Ia disambut seorang anak kira-kira usia 8 tahun sambil tersungut-sungut. Si pria itu hanya berujar, "maaf aba terlambat". Sementara, ibu muda yang rupanya istri pria berpeci ini hanya tersenyum menyaksikan tingkah anaknya itu, sambil mengikuti suaminya menuju kendaraan di lokasi parkir.
Rupanya, pria muda berpeci itu ayah anak yang bersama ibunya menunggu dijemput. Entah ada halangan apa, dia terlambat dari jam yang dijanjikan. Namun yang menarik, meski anaknya cemberut dengan kelambanannya, ia malah tersenyum dan berulang kali minta maaf. "Seorang ayah yang bijak" kata saya dalam hati.
Mungkin, kekaguman bukan hanya dari saya. Seroang ibu yang sama-sama sudah hampir tiga perempat jam menunggu obat, tatapan matanya mengikuti keluarga kecil itu hingga ke luar ruangan. "Mungkin dia terkesan dengan kebijakannya," kata hati saya mengira.
Memang berat rasanya, kita meminta maaf terhadap orang yang kita rasa posisinya di bawah. Baik kepada bawahan, keluarga serta orang yang strata sosialnya dianggap lebih rendah. Kita juga sering bersikap kurang proporsional memperlakukan orang yang belum tahu asal-usul serta statusnya. Rasanya kita ingin selalu benar, menang serta selalu ingin dihormati. Padahal tanpa menujukkan sikap itu, jika sikap kita sudah proporsional menghormati orang lain, tanpa diminta pun penghargaan datang sendiri. (***)