Kisah 1001 Malam Inspirasi untuk Pemimpin Kecilku

Satu cita-cita yang kami tularkan kepada kedua putriku, menjadi seorang penulis. Meski kami menyadari, cita-cita tidak bisa ditularkan, cita-cita harus berdasarakan kesadaran kognitif anak sehingga benar-benar bisa mewujudkannya. Selain cita-cita itu kami tidak pernah mengajarkan cita-cita yang lain. Misalnya jadi dokter, pilot atau pramugari, layaknya cita-cita nge-tren yang sering disebutkan anak-anak setiap zaman.

Mengapa cita-cita menulis? Ada beberapa jawaban yang bisa dinalar. Pertama, menulis tidak terikat oleh suatu pekerjaan. Apapun profesinya, seseorang bisa menjadi menulis. Seorang guru, dosen, juga petani bisa menuliskan pengalaman mengajar atau bertaninya juga bisa menginspirasi orang lain, tanpa meninggalkan pekerjaan yang sudah dilakoninya.

Kedua, menulis tidak memiliki syarat pendidikan atau strata tertentu. Menulis pekerjaan yang sangat demokratis. Siapapun orangnya, latar belakang apapaun pendidikannya, boleh berkecimpung dalam dunia tulis menulis. Sekedar berbagi ide, gagasan serta pengalaman yang dapat menginspirasi public.

Tentu saja saya dan isteri menyadari bahwa sebagai orang tua, tidak berhak menentukan cita-cita anak untuk jadi ini atau itu. Tugas orang tua mendidik, mengarahkan, apa yang mesti dilakukan supaya anak-anak menjadi pemimpin masa depan dalam berbagai perannya hingga akhirnya merekalah yang mengambil pilihan. 

Saya teringat puisi sang penyair legendaris dari Libanon, Kahlil Gibran. Ia mengungkapkan.
“Anakmu bukanlah anakmu
Mereka adalah putra-putri kehidupan yang rindu dirinya sendiri
Mereka lahir melalui engkau, tapi bukan dari engkau
Dan meskipun mereka bersamamu, namun mereka bukanlah milikmu

Hal senda dengan ungkapan Imam Ali Bin Abi Tholib”  
“Muliakanlah keluarga dan anak-anakmumu, karena mereka sayap untuk menerbangkanmu, tempat asal kepulanganmu dan tanganmu untuk mencapai keinginanmu.
Hadiahkanlah ciuman untuk anakmu sesering mungkin karena sesungguhnya ciuman anakmu syafakah dari muhibah kepada Tuhanmu
Didiklah anakmu karena mereka akan menemui masa yang bukan zamanmu.”

Cukup mengejutkan saya ketika putriku yang pertama menyebutkan cita-citanya di masa depan, ingin menjadi penulis. Ia memasuki usia enam tahun, kini sekolah di Taman Kanak-Kanak (TK). Entah apa maksud cita-cita menjadi penulis menurut pengatahuannya. Mungkin yang ia tahu, menjadi penulis karena dia sering melihat saya duduk di depan laptop jadoel, sambil jari mengetik di tuts keyboard.

Sesekali ia juga menengok layar laptop hasil tulisan saya sambil membacanya perlahan. Setiap hari, ia  melihat saya sibuk sendiri tak peduli anggota keluarga lain sibuk mencari pulpen atau mainan kesayangan anak-anak yang hilang.

Tulisan saya biasa saya kerjakan, seputar laporan berita, atau tulisan ringan untuk di blog, artikel di Koran, atau tulisan untuk diikutsertakan dalam lomba.   Suatu kata bijak mengumumkan, “buah tidak akan jauh dari tangkainya”. Ketika putriku sering melihat orang orangtuanya melakukan sesuatu pekerjaan berulang-ulang, ia ingin mencoba menirunya bahkan ingin menjadi apa yang ia lihat dan dengar.

Sekedar upaya, kadang-kadang saya bercerita kisah-kisah inspiratif yang masih dijangkau akal anak-anak seusianya. Misalnya tentang kisah 1001 malam yang melegenda itu. Salah satu tokoh sudah anakku kenal, Aladin dam lampu ajaibnya, Abu Nawas, Simbad si pelaut dengan kisah 7 kali pelayarannya yang mendebarkan.

Dari kisah itu sedikit banyak putriki memahami bahwa hidup ini penuh perjuangan. Ketakutan terhadap gelombang lautan tidak hanya dirasakan ketika melaut, tetapi di setiap sesi kehidupan di manapun mengarunginya.  Ombak ibarat rintangan dan lautan ibarat luasnya kehidupan. Siapapun yang berani hidup, ia harus berani menghadapi ombak, gelombang dan badai.

Selain mendengarkan kisah-kisah imajinatif, ternyata putriku juga memiliki bakat dalam melukis. Pernah suatu saat, ia melukis saya yang sedang berjalan, berkacamata dan bersarung bahkan beberapa kali sempat menjadi juara lomba melukis. Dalam melukis, ibunya yang memasukkan putriku les melukis setiap hari sabtu usai sekolah.

Benar, bahwa anak-anak mengimajinasi apa yang dia lihat dan apa yang ia dengar. Pantas para ahli menyebutkan, usia tersebut merupakan golden age yang mesti diperhatikan baik perkembangan otaknya melalui asupan nutrisi yang seimbang juga asupan mental yang benar.  
Untuk urusan makanan, isterku sangat perhatian. Meski bukan makanan yang mewah, minimal mencukupi kebutuhan nutrisi yang mereka butuhkan terutama perkembangan otaknya.  

Kami juga perlahan mengajarkan etika, bagaimana berjalan di hadapan orang banyak dalam adat Indonesia yang harus membungkukkan badan sedikit supaya tidak diangap tidak sopan di samping mengajarkan ritual keagamaan yang dianut keluarga. Perlahan kami juga melatih anak-anak bagaimana minum dan makan yang baik, berdoa, bersyukur atas apa yang didapat hingga mengajarkan cara bertanya atau menjawab pertanyaan dari orang lain.

Sejak dini, saya dan isteri mengenalkan kepada anak-anak hak dan kewajiban. Jangan coba-coba mengambil barang orang lain di manapun berada baik terlihat atau bersembunyi. Jika tidak memiliki suatu barang mainan kami sarankan bersabar hingga suatu saat diberi rizki segera membelinya jika memang urgen untuk dimiliki.

Kami berkeyakinan, sejak usia dinilah masa yang tepat untuk mengajarkan tidak coba-coba mengambil hak orang lain dengan cara apapun. Bukankah tindakan korupsi yang menyengsarakan rakyat dan Negara kini akibat keinginan memiliki hak orang lain tanpa kendali. Tak peduli halal atau haram yang penting keinginan sendiri terpenuhi.  Jika putriku jajan ke warung dan ternyata ada uang kembalian, mesti diketahui berapa kelebihannya. Setelah itu bisa diberikan atau diambil karena memang ia tidak membutuhkan.

Kembali pada cita-cita di atas, kami berharap anakku menjadi penulis yang jujur, taat terhadap moral dan etika. Di manapun mereka berada, hakikatnya menjadi seorang pemimpin minimal untuk dirinya dan teladan bagi ligkunga sekitarnya.

Tentu harapan lebih luas, kejujuran, saling menghargai, beraklaq baik itu bisa dimiliki semua orang hingga pada akhirnya menjadi satu kesatuan, sebuah komunitas yang sangat massal. Mereka, anak-anak inilah kelak menjadi penerus bangsa dan Negara, menjadi seorang pemimpin sesuai kapasitas dan perannya masing-masing. Semoga.  (*)

Bermitra dengan Pesaing, Mengapa tidak?

Persaingan menjadi hal yang sangat mutlak dalam dunia usaha. Seorang pengusaha tidak bisa memonopoli satu jenis usahanya supaya tidak ditiru atau diikuti oleh pengusaha lain. Dampaknya, persaingan semakin ketat para entrepreneurpun tidak bisa berdiam dalam satu strategi atau mengandalkan pasar yang sama. 

Sikap dan cara yang harus berbeda saat memperebutkan kue oleh dua orang dengan banyak orang.
Persaingan bisa dalam bentuk yang lunak bahkan dalam tahap tertentu bisa jadi benturan. Persaingan memunculkan dampak positif bila dengan persaingan sang pengusaha justeru mampu kreatif meyakinkan para consumer tetap memilih produk atau jasanya

Custumer tidak bisa lepas dari dunia usaha. Sebesar apapun perusahaan, jika produk atau jasa tidak diminati, usahanya tidak akan berjalan. Ingat dengan pepapath, “pembeli atau pelanggan adalah raja”. Ini menunjukkan minat costumer pada akhirnya yang akan menentukan keberhasilan usaha atau sebaliknya. Persaingan menjadi keniscayaan bahkan wajib. Tanpa persaingan tidak bisa dikatakan juara. Seorang atlet lari tidak dikatakan pemenang jika berlari sendirian tanpa kehadiran atlet yang lain.

Persaingan juga bisa berdampak negative bila persaingan justeru memicu melempemnya usaha. Ini bisa disebabkan  beberapa hal. Bisa jadi si pengusaha tidak mau mengubah mind set tentang  usaha yang dijalankannya. Bisa jadi juga, ia merasa percaya diri dan tidak membuat inovasi sehingga membiarkan usaha dikalahkan. Hanya karena melihat usaha pesaing masih kecil, bersikap santai dengan menghibur diri, kita masih yang terbaik. Sikap ini sama artinya dengan menggali kuburan sendiri karena bersikap sombong.
Jangan remehkan pendatang baru. Mereka sedang berjuang dengan berbagai strategi dan energy yang power ful.

Namun demikian tidak perlu panik dengan kehadiran para persaing. Lihatlah dan amati secara proporsional hingga akan terbuka di mana letak kekuatan orang lain atau sebaliknya di mana kekuatan dan kelamahan kita untuk kemudian memperbaikinya.

Dalam menaklukkan persaingan, tidak berarti harus mengalahkan atau mematikan. Dalam usaha, orang lain juga berhak hidup. Justeru yang terbaik bagaimana bersaing tanpa mematikan bahkan menjadikan pesaing sebagai mitra.

Saya punya kisah kecil dengan pesaing yang akhirnya jadi mitra usaha. Saya menjalankan usaha jasa laundry. Di lokasi tersebut saya termasuk yang pertama hadir hingga bebas dalam menentukan harga. Beberapa bulan kemudian muncullah beberapa usaha laundry dengan harga yang cukup mengejutkan bagi saya. Di spanduk dan brosur tertera begitu murah bahkan setengahnya dari harga normal tariff laundry di tempat saya.

Saya mencoba pelajari mengapa bisa semurah itu. Berdasarakan hitung-hitungan, rasanya tidak mungkin harga semurah itu, kecuali usahanya mau rugi atau sekedar mencari perhatian calon pembeli.
Singkat cerita saya mendaptkan informasi, ternyata harga yang tertera dalam brosur dan spanduk laundry baru tersebut, harga berlaku setengah jadi hingga  pakaian diperas, belum dikeringkan apalagi hingga rapi disetrika.

Kalau tidak salah waktu itu tercantum di spanduk, harga Rp1400/kg, tanpa keterangan lain. Kenyataannya, Rp1400 tersebut hingga pakaian diperas, juga harga belaku untuk minimal 5Kg. Jika pelangan membawa 2 Kg saja, itu akan dihitung Rp7.000 atau Rp1.400 dikali 5 kg.

Tarif laundry hingga cuci kering dan setrika di pendatang baru tersebut jika ditotal akan mencapai Rp5000/kg yang artinya sama dengan tariff yang berlaku di laundry yang saya jalankan. Hanya saja, saya memberlakukan minimal 2 Kg, cucian di bawah Rp2 kg dikenakan tariff Rp10.000.

Sementara di laundry pesaing, jenis cucian dipisah-pisah, cuci saja, keringkan saja, setrika saja hingga dipacking punya tariff tersendiri. Sedangkan yang dikomunikasikan kapada public tariff yang paling murah.  
Kondisi itu kemudian saya manfaatkan untuk mencucikan pakaian pelanggan yang masuk ke tampat laundry saya terutama jika cucian sedang numpuk. Supaya tidak rugi, pakaian yang akan dikirim timbang terlebih dahulu minimal 5 Kg jangan lebih, kurang dikit boleh.

Setiap 5 Kg cuci saja, saya membayar Rp7.000. Hitung-hitungan, biaya produksi hampir sama, setiap 5 kg akan menghabiskan biaya Rp7000 juga, jika dilakukan dalam satu kali  siklus pencucian mesin.
Dengan demikian, saya bisa mendapat manfaat dari jasa laundry pesaing yang “murah” itu. Setiap kali pakaian penuh di laundry, saya selalu membawa cucian ke tempat laundry pesaing.

Akhirnya saya juga tidak menurunkan tariff laundry sambil tetap mengedukasi kepada pelanggan, mengapa di orang lain tertera harga sangat murah, sementara di saya kesannya agak mahal.

Tentu saya tidak berhenti di situ. Bagi pelanggan lama saya bisa meyakinkan terkakit harga tadi. Sedangkan bagi para calon pelanggan, saya membuat terobosan lagi dengan membuat brosur dan spanduk yang semakin menarik.  

Karena persaingan merupakan hukum alam, baik dalam dunia entrepreneur maupun dunia lainnya, maka yang mesti diperbaiki sikap menghadapi persaingan. Janganlah cepat panik dengan kenyataan persaingan yang terkesan mendadak. Tetapi mencoba rasional sambil mencari cara membangun starategi yang tepat.

Targetnya jangan mencoba mematikan lawan. Cobalah bertahan dalam peraingan secara sehat tanpa mengurangi kualitas produk atau jasa dari usaha yang kita kelola. Syukur-syukur, kita bisa menjadikan pesaing sebagai mitra, sehingga bukan hanya kita yang diuntungkan, tetapi pesaing juga merasa terbantu keberlangsungan usahanya. 

Maka dari persaingan tergantung respon kita. Bila tepat mensikapinya justeru akan menghasilkan peluang dan berdampak positif. Sebaliknya, jika respon kita negative, dipastikan dampaknya juga negative. Maka berdamai dengan persaingan…!!! (*)  






Tasik Kreatif, Cantik Campernik

Akhir Mei 2013, saya menghadiri konfrensi pers, meet and greet musisi legendaris nasional Iwan Fals di Hotel Santika Tasikmlaya.


Kesan Iwan Fals saat ditanya MC tentang Tasikmalaya, Tutug Oncom (TO). Ya...benar Tutug Oncom. Pelantun "Umar Bakri" ini  terkesan dengan TO karena rasa dan performa kuliner karuhun urang Tasikmalaya itu sangat unik.

Bang Iwan juga mengapresiasi musisi Tasikmalaya yang menurutnya sangat potensial dibangun menjadi musisi berkelas. Syaratnya komitmen dan harus menjadi diri sendiri dalam berkarya serta pantang menyerah.

300
foto :anep paoji/dok pribadi
Gapura selamat datang menuju Sentra Bordir
Kawalu Kota Tasikmalaya
Kesan Bang Iwan tentu hanya menggambarkan bagian kecil dari Tasikmalaya. Banyak potensi yang tidak bisa ditangkap oleh pelancong yang hanya sebantar waktu stay di kota yang pernah dijuluki "Kota Resik" yang campernik (mungil) ini.  Ragam potensi Tasikmalaya bisa ditemui secara kasat mata. 

Misalnya pada wisata belanja kerajinan unggulan produksi Usaha, Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) serta ragam kuliner khas.

Menurut catatan Dinas UMKM, Koperasi, Industri dan Perdagangan Kota Tasikmalaya sektor UMKM meraup omzet per tahun sekitar Rp2 triliun dari 7.700 unit usaha dengan serapan tenaga kerja mencapai 55.000 orang. Komiditas unggulan meliputi bordir, kerajinan bambu, kelom dan payung geulis, batik, kerajinan kayu dan olahan makanan.

Kerajinan bordir nampaknya paling menonjol di antara produk unggulan yang lain. Kerajinan ini sudah diekspor ke Malaysia, Singapura, Bruney Darusalam, Mesir, Abu Dhabi, Dubai serta Negara Arab lainnya. Bordir Tasik juga sudah menembus pasar Jepang dan Amerika.

foto :anep paoji/dok pribadi
H. Wawan S. Nawawi, pengusaha bordir Kawalu 
Penulis sempat bincang-bincang dengan owner bordir ternama dari Kawalu. Namanya Wawan Setiawan Nawawi, pemilik Zarkasie Embroidery. Katanya, bordir yang digandrungi pasar luar negeri, justeru bordir tradisional atau bordir hasil mesin kejek karena memiliki karakteristik yang khas ketimbang hasil bordir komputer yang dibuat secara massal. 

Sayang, nyaris semua pelaku bordir Kawalu beralih ke produksi massal sehingga kekhasan bordircraft perlahan meluntur. Hanya segelintir perajin yang masih mempertahankan bordir mesin kejek. Itupun jumlah produksi sangat terbatas, sekedar memenuhi pesanan.

Padahal menurut Wawan, dari segi bisnis, margin bordir kejek sangat besar. Demikian juga dari sisi budaya, bordir mesin kejek akan membantu melestarikan tradisi masyarakat Tasikmalaya sebagai kota kreatif.  

Ia juga sempat mensuplai bordir kejek ke Jepang dan Negara Eropa dengan harga yang cukup mahal. Satu set taplak meja atau satu set seprai, bisa mencapai Rp1,5 –Rp5 juta.

Pemerintah Kota Tasikmalaya tengah memadukan wisata kerajinan UMKM juga kuliner sebagai wisata belanja. Pemerintah mengklaim, kota yang dijuluki kota santri ini merupakan kota yang paling siap menjadi destinasi wisata belanja di Priangan Timur. Ambisi ini sejalan dengan rencana pemerintah Provinsi Jawa Barat yang  pada tahun 2014 akan menggenjot potensi wisata Jawa Barat bagian Selatan.

Dari sisi potensi wisata alam Kota Tasikmalaya tidak sekaya daerah lain di Priangan Timur. Kabupaten Tasikmalaya -yang masih memiliki latar historis sama dengan Kota Tasikmalaya - misalnya, memiliki Pantai Cipatujah wisata Gunung Galunggung dan Wisata Ziarah Pamijahan hingga wisata budaya Kampung Naga. Demikian juga dengan Kabupaten Pangandaran. Kabupaten yang baru mekar dari Kabupaten Ciamis ini, memiliki objek wisata Pantai Pangandaran, cagar alam, Batu Karas dan Green Kanyon.

Hal yang sama dengan Garut yang memiliki objek wisata Candi Cangkuang, Kampung Sampireun atau Pantai Pameungpeuk di Garut Selatan.  Sementara objek wisata alam Kota Tasikmalaya hanya Situ Gede dan Rest Area Urug. Itupun belum dikelola maksimal dengan jumlah wisatawan setiap tahun sangat terbatas. Sehingga pilihan alternative menyiapkan diri sebagai kota wisata belanja, perdagangan dan jasa di Priangan Timur.  (ANEP PAOJI)



Menuju TAsikmalaya Harus  Menggunakan Jalur Darat 

Beginilah Transportasi Kota Tasik dalam Kota










Cara Mudah Jadi Agen dari “Pojok Pulsa”

Pulsa kini sudah menjadi kebutuhan pokok. Sekalipun tidak menggantikan kebutuhan dasar makanan-minuman, tingkat konsumsi pulsa seseorang bisa melebihi konsumsi makanan pokok sehari-hari setiap bulannya.

Konsumsi pulsa lebih besar lagi karena saat ini setiap orang nyaris punya 2 - 5 gadget yang semuanya harus diisi pulsa. Paling minimalis, 1 hadphone untuk telpon dan SMS, 1 gadget untuk mobil online dan 1 lagi gadget koneksi internet melalui computer dan laptop dengan sambungan modm.  Penggunaan operator pun bermacam-macam, CDMA atau GSM, menjadi layanan yang saling mengisi.  

Jika 1 gadget saja harus diisi minimal Rp50.000 per bulan, untuk 3 gadget satu bulan menghabiskan uang minimal Rp150.000. Belum lagi jika ada kebutuhan mendesak dalam berkomunikasi, seperti lobi bisnis, kontak keluarga yang sedang musibah atau keperluan mendadak, kebutuhan pulsa tidak cukup bajet bulanan. Selagi ada uang, pulsa harus ekstra.

Bandingkan dengan konsumsi beras, Rp150.000, bisa membeli beras kualitas bagus stok satu bulan anggota keluarga kecil. Sebuah potensi cukup besar bagi para peminat bisnis. Mungkin dari peluang hitungam kasar di atas, kini marak penjual pulsa elektrik, mulai konter besar hingga konter berjalan. Kondisi ini semakin meriah didukung layanana operator selular yang memanjakan pelangannya dengan tarif yang kompetitif. Bukan hal yang aneh, di gunung atau di tengah hutan bisa telpon ria, update status di jejaring sosial terkait kondisi yang dialaminya.

Aktifits semua itu tidak lepas dari kebutuhan pulsa. Tanpa pulsa, semahal dan secanggih apapun gadget tidak akan bisa digunakan. Dengan siap siaga pulsa, pengguna bisa aksis, narsis dan saling memberi kabar di mana saja dan kapan saja.

Perkambangan gaya hidup yang sedemikian revolusioner diimbangi pula dengan infrastrukrut layanan dari perusahaan penjual pulsa. Kondisi ini akan memudahkan konsumen pulsa, juga memberi peluang kepada pelaku usaha untuk menjajal bisnis pulsa. Tidak perlu punya konter atau peralatan khusus, cukup dengan handphone jadul, setiap orang bisa jualan pulsa.

Saya sering melihat, anak-anak SMA, jual pulsa kepada teman-temannya atau kepada para karyawan tempat mereka magang. Begitu akhir bulan musim gajian, pulsa ditagihkan. Keuntungan yang dia ambil rata-rata Rp500-Rp1000 per transaksi bahkan lebih. Anak SMK tersebut sudah belajar usaha memutarkan uang yang dia punya dengan modal telpon genggam yang digunakan sehari-hari dengan pasar teman dan kenalannya. Hal yang sama para ibu-ibu di kompleks atau para bendahara perusahaan dan tata usaha, menyuplai kebutuhan pulsa bagi tetangga dan karyawan internalnya.    

Usaha jual pulsa model anak SMK tersebut sangat memungkinkan karena berbagai dealer memberikan kemudahan bertransaksi. Depositpun cukup ringan, mulai Rp50.000 sebagai modal awal, jualan pulsapun mulai berjalan.

Cara transaksi semakin canggih. Layanan SMS banking, internet bangking atau ATM dan fasilitas perbankan lainnya, mumudahkan para agen menyimpan deposit. Dengan SMS banking misalnya, transfer cukup di handphone tanpa antre di bank. Demikian juga untuk menjadi member penjual pulsa, tidak lagi memerlukan tatap muka, cukup SMS dan keagenan jadi.

Di Pojok Pulsa misalnya -salah satu web server pulsa elektrik dan menyediakan keagenan pulsa tersebut - sejak daftar dan deposit tidak harus bertatap muka.  Jadi  agen cukup daftar melalui SMS. Sebuah cara yang cukup mudah dan boleh jadi menyenangkan.

Cukup ketik REG*NAMA*NomorHP*KOTA
Contoh : REG*WAWAN CELL*081216060600*JAKARTA
Kirim ke : 0877 8256 9123  setelah itu aka nada konfirmasi kemudian ikuti  perintah selanjutnya. Untuk lebih jelas bisa dibuka di sini. 

Menarik juga, di Pojok Pulsa bukan sekedar jualan konvensional, layaknya konter biasa. Anggota bisa mengembangkan usaha dengan membantuk downline. Tetapi ini berbeda dengan system Multi Level Marketing (MLM) pulsa yang beberapa tahun terakhir sempat buming. Desain downline Pojok Pulsa akan memberikan keuntungan yang terukur bukan sekedar janji manis.

Dengan demikian ada dua keuntungan yang bisa diambil seorang agen Pojok Pulsa. Pertama dari penjualan langsung kepada konsumen akhir dengan harga dasar cukup murah. dan kedua keuntungan dari downline setiap melakukan transaksi penjualan.

Bagaimanpun, pulsa kini sudah menjadi kebutuhan yang tidak bisa dipisahkan dari aktifitas manusia. Tak ada salahnya jika kita mengikuti tren menjadi agen pulsa atau sekedar mencari pulsa murah untuk keperluan diri sendiri dan keluarga dengan cara deposit pulsa. Barangkali di sinilah urgensinya layanan Pojok Pulsa, memberikan kemudahan serta peluang usaha jual pulsa yang akan terus dibutuhkan dalam aktifitas manusia modern. (*)  


Postingan ini dalam rangka Lomba Blog Pojok Pulsa:
Mau Pulsa Gratis? Follow: @pojoktweet | Facebook Page Pojok Pulsa | Pojok Pulsa Google Plus Page

“Ngeri-ngeri Sedap”, Mahluk Seram Bersenjata Tombak dalam Ceret

Saat kecil senang sekali mengacak-acak tumpukan buku di rumah kakek yang seorang pensiunan PNS jabatan terakhir  kepala sekolah Madrasah Ibtidaiyah (MI). Beberapa koleksi buku tersimpan di rumah karena di sekolah tidak ada tempat untuk menyimpan. Gedung sekolah alakadarnya, meski sudah menggunakan tembok dan genting, tidak terlalu aman untuk menyimpan buku-buku bacaan.

Saat itu saya belum masuk SD. Buku yang menarik perhatian saya, sebuah buku yang terdapat gambar syetan di dalam ceret. Penasaran sakaligus takut melihatnya. Mahluk itu berwarna merah bertanduk dan memegang tombak mukanya menyeramkan. Saya berfikir, jangan-jangan setiap ceret yang digunakan di rumah untuk menampung air ada mahluk seperti itu. Kakak-kakak yang sudah bisa membaca hanya menakut-nakuti tidak menjelaskan yang sebenarnya pesan dari gambar.

Perpustakana pribadi di rumah untuk si kecil
Sebenarnya, gambar itu memberi penjelasan, jika air minum dalam ceret tidak dimasak, kuman atau virus yang divisualisasi mahluk menyeramkan akan menyerang kesehatan manusia. Jadi sebelum air diminum harus dimasak terlebih dahulu.

Waktu kecil saya juga cukup heran, mengapa kakak-kakak dan teman-teman yang sudah masuk sekolah bisa memahami rangkaian huruf yang tidak saya fahami. Saya selalu mencoba bertanya, apa maskud rangkaian huruf tersebut juga keterkaitan dengan gambar.

Dapat dipahami, seusia itu, saya sedang mengalami serba ingin tahu dan mencoba menangkap pesan visual dan memahaminya. Dari kepenasaran itu, saya sering menyelinap di rak yang penuh buku mencari apa saja yang bergambar, baik yang dianggap menakutkan maupun gambar-gambar yang menyenangkan.

Saya juga sangat terkesan dengan buku Bahasa Indonesia kelas 1 SD. Kalau tidak salah bacaannya begini :

Ini budi
Ini adik budi
Ini kaka budi
Ini ibu budi
Ini bapak budi
Ibu memasak di dapur
Ayah berangkat ke kantor

Saat masuk kelas 1 MI/SD saya mendapat buku tersebut gratis atau tepatnya dipinjamkan seperti buku dari Bantuan Operasional sekolah (BOS) saat ini. Buku harus dikembalikan jika memasuki kelas berikutnya. Hanya saja, buku tersebut hilang dan tidak sempat saya kembalikan.

Sayang mamasuki SD, rasanya sangat jarang menemukan buku-buku.  Sekolah tidak punya perpustakaan yang cukup, buku pun hanya bacaan pokok yang jumlahnya sangat terbatas. Barangkali keterbatasan sekolah di pelosok daerah diraskan juga oleh anak-anak sezaman dengan saya. Iklim politik ketika itu masih sangat kooptasi dari rezim penguasa, sumber bacaan sengat ketat dan terkontrol.  

Berbeda dengan kondisi sekarang. Anak-anak sudah dilimpahi berbagai buku bacaan. Usia TK sudah hafal angka dan bisa membaca. Meski secara teori, anak TK tidak boleh calistung, tetap saja sekolah menjejali anak dengan buku-buku juga hafalan.

Anehnya lagi ketika masuk SD, beberapa sekolah memberlakukan sertifikat lulus TK dan mensyaratkan sudah bisa membca.  Di lain pihak sebagai orang tua tentu merasa bangga, anak seusia kita dulu belum bisa baca dan menulis, mereka kini sudah mahir.

Perlahan, saya mencoba memperkankan buku kepada anak meski sebatas memperlihatkan dan berkisah berbagai cerita didalamnya. Misalnya kisah seribu satu malam atau kisah yang cocok dengan usianya yang baru 5 tahun. Sengaja, koleksi buku saat kuliah disimpan di lemari terbuka supaya mudah terlihat. Itung-itung perpustakaan pribadi meski koleksi sangat terbatas.  

Sungguh surprise bagi saya, ketika suatu sore si cikal memberi bungkusan mainan yang dia sebut sebagai kado. Katanya, ini kado buku buat ayah, karena ayah suka buku. Ia pun membuka bungkusan itu dan sebuah kertas kumel bertuliskan “kado buku buat ayah”.

Saya jadi teringat saat kecil dulu seusia anakku kini, sering mengacak-acak buku yang belum dapat memahami huruf-huruf didalamnya. Sementara anakku, sudah mampu menyampaikan pesan hasil tulisan tangannya sendiri. Saya hanya bersyukur dan berdoa,  dalam hati, semoga bisa menyiapkan buku-buku berkualitas untuk bacaan anak-anak supaya mereka terbiasa membaca. (*)

Buku Terbitan Mizan Ini yang Paling Berkesan Bagi Saya

Salah satu judul buku terbitan Mizan Publishing yang cukup berkesan bagi saya, “Spiritual Thinking : Sukses dengan NLP dan Tasawuf”, karya Priatno H. Martokoesoemo. Bahasan buku ini menjelasakan tentang Neuro Lingusitik Program (NLP) yang memadukan dengan bahasan nilai-nilai sifistik dalam Islam. Cukup unik karena penulis yang  jebolan perguruan tinggi University of Washington ini dengan studi Matematic-Physics tersebut, mampu memaparkan NLP secara sederhana yang diakitkan dengan pesan-pesan moral tawasuf.

Dalam NLP ia mengupas sisi alam bawah sadar manusia yang secara langsung terprogram oleh kebiasaan negative ataupun positifi yang berdampak pula pada pembentukan pola pikir seseorang. Priatno pun menguraikan, bahwa ada metode dalam NLP, memprogram ulang pikiran (mainsetting) supaya berfikir lebih positif, realitsis dan tidak berpandangan negative atas persoalan yang dialami. Dari sisi spiritualistic, dia mengambil tradisi tariqot qidriah naksabandiyah yang diparaktikkan Abah Anom Suryalaya, Tasikmalaya, Jawa Barat.

Tanpa mepertentangkan NLP dengan nilai sufistik Islam, ia menekankan apa yang terjadi, yang dikehendaki maupun yang tidak dikehenndaki adalah milik Allah SWT. Kepasrahan mestinya hanya ditujukan keapda Allah SWT sebagai pemilik semesta. Kepasrahan ini menuju kepada perbaikkan akhlak personal hingga  mampu mengubah akhlak masyarakat lebih luas.
Penulis bagi saya cukup berhasil membahas NLP dan sufisme Islam dalam praktif dunia modern yang ia sebut sebagai Spiritual Thingking (ST). Ia fokus pada implementasi akhlak yang telah berhasil dipraktikkan oleh para ulama tasawuf.

Beberapa point yang sering saya praktikkan dari buku ini, teknik berserah diri yang memadukan teknik meditasi dengan dzikir. Tradisi meditasi secara tersurat tidak terdapat dalam ritual ajaran Islam. Ia lebih dikenal muncul dalam ritual di luar Islam. Dalam NLP, dikenal dengan autosugetsi, dengan cara memberi dorongan melali kata-kata pada alam bawah sadar untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam  Islam, menyerahkan diri hanya kepada Allah dalam shalat atau di luar shalat dengan cara berdoa.

Kantor Mizan Publishing
Praktik berserah diri dalam ST, memadukan antara meditasi, dzikir dan doa. Berserah diri hanya kepada Allah yang secara langsung mensugesti diri bahwa yang bisa mengubah hanya Allah SWT semata. Dengan teknik seperti ini, terasa bahwa ketika kita berserah diri, sungguh hasilnya luar biasa. Tidak hanya tenang dalam hati dalam menghadapi masalah tetapi permasalahn perlahan bisa diatasi dengan mudah. 

Barangkali bukan hanya saya yang merasakan manfaat buku seperti ini. Dengan tema yang berbeda, buku berkualitas akan mampu mengubah persepsi bahkan tingkah laku seseorang. Buku juga mampu mewarisi khazanah intelktual serta khazanah keagamaan. Di sinilah peran para penerbit dalam melestarikan pemikiran serta gagasan-gagasan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Penerbit Mizan sebagai penerbit yang mengedepankan keberimbangan dalam wacana pemikiran nampaknya sudah berhasil pada posisi tengah dalam menerbitkan buku-buku berkualitas. Tidak hanya asfek bisnis yang diperhatikan, tetapi asfek menfaat.  Mizan dalam bahsa arab berarti seimbang.

PT. Mizan Publishing didirikan tahun 1983 oleh tiga mahasiswa bernama Haidar Bagir, Ali Abdullah dan Zainal Abidin Shahab. Awalnya mereka ingin membangun karya-karya tulis keislaman di Indonesia. Dengan semakin berkembangnya aktifitas usaha, penerbitan tidak lagi sebatas menerjemahkan karya penulis terkemuka luar negeri tetapi terus berinovasi menerbitkan karya penulis potensial dalam negeri.

Film Laskar Pelangi
Tahun 1999, Mizan membentuk Mizan Publika sebagai perusahaan induk (holding company) dan tahun 2001 meluncurkan program restrukturisasi. Dari sini Mizan terbagi dalam unit-unit yang otonom dan dinamis sehingga mampu beradaptasi terhadap ikilim bisnis. Lahirlah unit usaha penerbitan, distribusi, penjualan galeri buku online dan percetakan. Per tahun, buku yang berhasil diterbitkan Mizan mencapai 600 judul buku termasuk karya-karya bestseller. Menyebut salah satu buku, Trilogi
Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata yang menghjebohkan itu. 

Tahun 2008, Grup Mizan mendirikan Mizan Productions yang merancang program-program film untuk televise. Sedikitnya Mizan Productions memproduksi enam film yang diakui secara luas, termasuk di dalamnya Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Garuda di Dadaku, Emak Ingin Naik Haji dan 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta serta Rindu Purnama. Film-film produksi Mizan juga telah memenangkan berbagai penghargaan baik di tanah air maupun di luar negeri.

Film Emak Ingin Naik Haji
Gebrakan Mizan Grup terbaru, berhasil mendirikan Mizan Digital Publishing yang menerbitkan serta memasarkan konten digital melalui berbagai media dan perangkat. Unit bisnis lain, Mizan Media Utama dan Mizan Dian Semesta  bergerak dalam bidang distribuis, Mizan Grafika Sarana dalam percetakan dan Mizan Learning Center dalam pelatihan.

Keberhasilan Mizan Group tidak lepas dari arsitektur dan pendirinya, Haidar Bagir. Dalam wawancara yang dimuat di Bisnis Indonesia Edisi 16 Febaruari 2011, Haidar Bagir memiliki visi dan misi bahwa Mizan didirikan bukan sebagai kegiatan usaha semata. Melainkan sebagai sarana dakwah.

Baginya, Mizan tidak sebatas menerbitkan buku-buku bernafaskan Islam, melainkan penerbit yang terbuka dalam menyebarkan  buku-buku berkualitas. Salah satunya kata pria yang semasa mahasiswa aktif di Salman ITB itu, pernah menerbitkan tulisan seorang pastor yang dinilainya berkualitas.

Dalam memajukan usaha, ia terus memberdayakan para karyawan termasuk dalam kesejahteraannya karena keberhasilan perusahaannya ditopang kreatifitas ide karyawan. Selamat Ulang Tahun ke-30 Mizan. Terus berkarya menerbitkan buku-buku berkualitas yang mencerahkan. (*)


Ini Dia Alasan Yamaha Xeon RC Sepeda Motor Keren, Cepat dan Canggih

Cukup beralasan jika Yamaha XeonRC diberi tagline Sepeda Motor Keren, Cepat dan Canggih. Yamaha, sebagai perusahaan besar yang mengutamakan kepuasan customer tentu memiliki berbagai pertimbangan mengapa menggunakan tagline tersebut. Sehingga antara tagline dengan fakta objektif sepeda motor yang dirilis awal 2013 harga Rp15 jutaan tersebut bakal singkron.

Dari tiga pilihan tagline ini bagi saya sudah mewakili performa Xeon RC. Para  pengguna sepeda motor, menginginkan motornya keren, motornya cepat juga canggih, antara fungsi dan style saling mendukung. Dalam bahasa marketing, tiga kata tersebut sudah mewakili ultimate advantage, sensational offer dan fowerful promise atau disiangkat USP.  

Pertama, Yamaha Xeon RC pantas dibilang keren. 
Keren identik dengan penampilan luar yang kasat mata sehingga tidak akan malu-maluin saat digunakan kapanpun dan situasai bagaimanapun.  Bodi dinamis membuat Yamaha Xeon RC terlihat lebih gaul. Dengan balutan striping simple namun trendi, menjadi sangat cocok dikendarai kaum remaja maupun orang tua juga pria atau wanita.

Tetapi kelelakiannya tidak membuat minder digunakan kaum hawa. Sebaliknya kefeminimannya tidak membuat minder pengguna kaum adam. Tepat seperti ungkapan dalam  iklan Yamah Xeon RC, “adakalnya saya ingin palan adakalanya saya harus cepat”.  

Motor ini juga didesain dengan system dua lengan ayun meski tetap menggunakan satu shock breaker. Dengan system ini menjadikan Yamaha Xeon RC stabil saat bermanuver di tikungan ekstrim meski dalam kecepatan tinggi.

Untuk varian warna tak kalah keren. Yamaha Xeon RC hadir dengan 5 varian warna. Dazzling Black atau hitam – kuning, Thunder Bolt Blue atau biru – putih, Regal Purple atau ungu – putih, Victorious Red atau merah – putih dan Cosmic White atau putih – oranye.
Tegasnya, alasan membuat YamahaXeon RC disebut keren :
  •  Desain terbaru lebih sporty dengan lampu utama lebih lebar
  • Stop lamp pada Yamaha Xeon RC ini berkonsep after burner jet tail lamp. Cirinya ada pada bagian dalam terdapat ornament garis-garis tajam sehingga nampak lebih kokoh dan macho.
  • Desain knalpot terinspirasi dari bentuk knalpotYamaha T-Max
  • Fitur yang paling baru adalah Smart Lock System dan Smart Stand Switch
  • Aplikasi sistem injeksi bahan bakar YMJET-FI
  •  Bahan bakarnya lebih hemat hingga 20 persen.
  • Akselerasi motor ini tergolong responsif.

Kedua, Yamaha Xeon RC Pantas Dibilang Cepat
Yamaha Xeon RC memiliki kapasitas mesin yang cukup besar, 125cc memiliki tenaga 11,4 hp dan torsi 10,4 Nm, dengan menggunakan teknologi Liquid Cooler (TC). Teknologi ini yang membedakan dengan motor matic di kelasnya. Artinya matic ini mengadopsi system pendingin motor bermesin besar. Water jacket dari Yamaha Xeon tidak hanya terdapat di bagian block cylinder tetapi terdapat di menutup bagian head cylinder sehingga pendingin mesin oleh radiator cooler tetap maksimal dan stabil dalam kondisi apapun.

Selain itu, berat motor juga lebih ringan dari Yamaha Xeon yang memiliki berat 3 kg di atasnya. Yamaha XeonCR telah menggunakan chassis baru yang membuat wheelbasenya bertambah 5 mm dan ground clereance lebih tinggi 10 mm. Dengan bodi yang lebih ramping dan ringan tersebut membuat motor ini lincah mampu bermanuver dalam kemacetan sehingga bergerak lebih cepat.

Ketiga, Yamaha Xeon RC Pantas Dibilang Canggih
Xeon RC diklaim sepeda motor matic berteknologi motor balap yang didesian terinspirasi pesawat tempur F117 Nighthawk berbekal DiASil Cylinder dan Forged Piston dalam mesin injeksinya.  Sedangkan penerapan teknologi FI -Yamaha menyebutnya dengan Yamaha Mixture JET-Fuel Injection (YMJET-FI) – memberi keuntungan akselerasi dan tenaga mesin sangat baik sementara konsumsi bahan bakar lebih efisien dan emisi gas buang lebih ramah lingkungan.

Sistem canggih ini bekerja sebagai pengatur bahan bakar dari tanki menuju injector untuk disalurkan ke dalam ruang bakar. Secara analogi, system ini seperti kinerja otak manusia. Pada system FI terdapat Electronic Control Unit (ECU) yang akan meneruskan sinyal ke sensor-sensor yang kemudian ECU memerintahkan injector untuk menyemprotkan bensin pada mesin sesuai kebutuhan. Apakah memerlukan suplai bahan bakar banyak atau sedikit tanpa kurang atau lebih.  Sistem itu sudah digunakan di motor produk Yamaha lainnya. Antara lain Yamaha V-Xion juga Yamaha Xeon lawas.

Saat saya mengikuti Warung Yamaha di Jeruk Purut – Jakarta 2011 lalu, PR Corporate & Communication Head Yamaha Indonesia Indra Dwi Sunda mengatakan, Yamaha mentarget semua motor produksinya akan diperkuat dengen teknologi YMJET-FI. Teknologi yang ramah lingkungan karena menghasilkan pembakaran bahan bakar yang sempurna.  Maka dengan keluarnya Xeon RC yang dilengkapi YMJET-FI, menunjukkan komitmen Yamaha menerapkan teknologi ramah lingkungan terealisasi.

Kehadiran Xeon RC juga lebih menggairahkan  pasar sepeda motor Yamaha. Berdasarakan berbagai pemberitaan, total 203.051 unit motor Yamaha terjual di Januari 2013 naik 45% dibandingkan Desember 2012 mencapai 139.809 unit. Motor injeksi Yamaha berkonstribusi tinggi 75% atau 151.418 unit,  terhadap total penjualan Yamaha. Yakni diperoleh dari V-Ixion 31.697 unit, Mio J 56.036 unit, Soul GT 36.532 unit, Jupiter Z1 14.179 unit dan Xeon RC 12.974 unit. Angka penjualanYamaha Xeon RC cukup fenomenal, padahal baru beberapa bulan di launching sudah hampir angka penjualan 13 ribu unit.

Nampaknya Yamaha ingin lebih memantapkan diri, dalam penerapan inovasi teknologi ramah lingkungan hingga penjualan, Yamaha “semakin di depan” dan semakin keren, cepat dan canggih dengan Xeon RC sehingga “semakin tak tertandingi”. (*)