Destigmatisasi, Upaya Menghormati Hak Sehat ODHA

Setidaknya ada dua pandangan berbeda dalam memperlakukan orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Pandangan pertama, menempatkan orang terinfeksi HIV/AIDS serba negatif. Ini karena paradigma umum, bahwa ODHA adalah mereka yang berpergaulan bebas atau memiliki latar belakang nagatif yang berisiko tinggi terjangkitnya HIV/AIDS. Seperti seks bebas atau para pengguna narkoba terutama media jarum suntik.


Dari pandangan ini muncul asumsi tak manusiawi, ODHA tak layak dikasihani karena penyakit itu merupakan kutukan atas perbuatan ”tercelanya”. Dengan pandangan negatif itu pula, tak jarang orang-orang terdekat dengan ODHA, termasuk keluarga sekalipun merasa punya aib kalau di keluarganya terdapat ODHA. ODHA pun tak lagi mendapat perlakuan semestinya sehingga secara psikologis akan semakin menderita. 

Kedua pandangan simpatik. Pandangan ini menempatkan ODHA sebagai manusia yang harus dikasihani dan mendapat simpati dari semua kalangan. Apalagi melihat realitas, banyak orang yang tertular HIV/AIDS berlatar belakang perilaku tidak berisiko. Mereka tiba-tiba sakit keras dan setelah didiagnosa positif HIV/AIDS.

Misalnya, seorang ibu-ibu tertular dari suaminya atau seorang anak tertular dari ibunya saat dilahirkan. Secara perilaku, dalam kasus tertular seperti itu, mereka tidak melakukan perbuatan negatif yang berisiko terkena HIV/AIDS. Ia hanya kebetulan hidup pada orang yang terkena HIV/AIDS yang itu bukanlah kemauan dirinya.

Kini cukup membahagiakan, banyak kelompok, organisasi yang peduli terhadap penderita HIV/AIDS, baik yayasan atau LSM dalam dan luar negeri. Sebagian ODHA pun hidup dalam pandangan positif serta beraktifitas normal. 

Dua pandangan berbeda di atas, secara tidak langsung menujukkan tingkat pemahaman masyarakat terhadap HIV/AIDS sangat kurang. Banyak orang berpandangan, virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia itu menular dengan mudah melalui media apapun, termasuk bekas minum ODHA bahkan hanya berjabat tangan.

Informasi seperti itu sungguh mengerikan. Eksesnya, ODHA ditakuti layaknya hantu. Jangankan diberi simpati, didekati ODHA pun tidak mau. Diharapkan, dengan mudahnya akses informasi yang sedemikian masif hingga pelosok pedesaan saat ini, informasi yang menyesatkan tentang HIV/AIDS akan terkurangi.


Diakui, penyebaran HIV/AIDS kini sudah masuk pada tahap membahayakan keberlangsungan hidup umat manusia. Setiap hari orang terinveksi dan satu persatu terbunuh. Namun sayang, kesadaran memeriksakan kesehatan masih kurang disadari masyarakat kita. Memeriksakan diri baru dilakukan bila penyakit dirasakan parah dan cepat-cepat mencari mendiagosa.

Memang biasanya, orang mau memeriksakan kondisi kesehatannya ketika penyakit sudah kadung parah. Maka tak heran jika data-data penderita HIV/AIDS yang mucul ke permukaan, hanyalah fenomena gunung es. Sedangkan akarnya, yang jumlahnya lebih banyak tidak terlihat sama sekali. 

Mengurangi penularan HIV tidak semata-mata tanggungjawab orang yang sehat atau ODHA. Perlu kesadaran semua pihak. Namun ironiosnya, meski upaya pengurangan terus dilakukan, setiap tahun jumlah penderita HIV/AIDS terus meningkat secara pantastis termasuk yang meninggal.

Fakta Tentang HIV/AIDS

Menurut data Kemenkes RI, dari Januari sampai dengan Maret 2012 jumlah kasus baru HIV yang dilaporkan sebanyak 5.991 kasus. Persentase kasus HIV tertinggi dilaporkan pada kelompok umur 25-49 tahun atau 75,4%, diikuti kelompok umur 20-24 tahun 15,0%  dan kelompok umur lebih dari 50 tahun 4,8%.

Rasio kasus HIV antara laki-laki dan perempuan adalah 1:1. Persentase faktor risiko HIV tertinggi adalah hubungan seks tidak aman pada heteroseksual sebanyak 46,6%, penggunaan jarum suntik tidak steril pada Penasun 12,6% dan Lelaki Seks Lelaki (ISL) sebanyak 6%.
Kasus AIDS Januari sampai dengan Maret 2012  sebanyak 551 kasus. Persentase kasus AIDS tertinggi pada kelompok umur 30-39 tahun sebanyak 35,2%, diikuti kelompok umur 20-29 tahun 30,9% dan kelompok umur 40-49 tahun 15,6%. Rasio kasus AIDS antara laki-laki dan perempuan adalah 2:1. Jumlah kasus AIDS tertinggi dilaporkan dari Provinsi Bali 154, Jawa Barat 104, Jawa Timur 65 dan Sulawesi Selatan 56.

Persentase factor risiko AIDStertinggi adalah hubungan seks tidak aman pada heteroseksual 77%, penggunaan jarum suntik tidak steril pada Penasun 8,5%, dari ibu positif HIV ke anak 5,1% dan Lelaki Seks Lelaki (LSL) sebanyak 2,7%.

Untuk pelayanan, hingga Maret 2012 sudah tersedia layanan HIV-AIDS di Indonesia sebanyak 500 layanan konseling dan Tes HIV Sukarela (KTS), termasuk Konseling dan Tes HIV yang diprakarsai oleh Petugas Kesehatan (KTPK). Di dalamnay terdapat 327 layanan PDP (Perawatan, Dukungan dan Pengobatan) yang aktif melakukan pengobatan ARV, terdiri dari 237 RS Rujukan PDP (induk) dan 85 satelit.

Sebanyak 77 layanan PTRM (Program Terapi Rumatan Metadon), sebanyak 194 Layanan Jarum Suntik Steril (LJSS) di Puskesmas, sebanyak 643 layanan IMS (Infeksi Menular Seksual), sebanyak 90 layanan PPIA (Pencegahan Penularan dari Ibu ke Anak) dan sebanyak 223 layanan (kolaborasi) TB-HIV.

Menurut data Komisi Penanggulangan Aids Nasional (KPAN) jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia hingga Maret 2008 mencapai 200 ribu orang.  Sedangkan menurut laporan UNAIDS, pada tahun 2001 diperkirakan sebanyak 21 juta penduduk dunia meninggal akibat HIV/AIDS. Kini penderita HIV/AIDS di seluruh dunia diperkirakan lebih dari 40 juta orang lebih. 

Perlu mendorong semua pihak, baikODHA dan lingkungan terdekatnya agar mendukung upaya sehat ODHA, baik secara moril maupun pengobatan.  Perlu juga cara pencegahan penularan virus HIV/AIDS. Misalnya dalam hubungan seksual ODHA harus menggunakan kondom, meski efektifitasnya masih jadi perdebatan.

Masa perawatan di rumah sakit, diskriminasi masih dikabarkan sering terjadi. Misalnya dengan perlakuan khusus serta ruang yang kerapkali dibedakan dengan pasien penyakit biasa yang secara tidak langsung menambah derita psikologis pasien ODHA

Maka yang paling praktis saat ini dilakukan, selain perawatan secara medis juga dorongan psikologis agar ODHA memiliki semangat hidup. Perlu juga penyebaran informasi pengatahuan secara massif kepada seluruh lapisan masyarakat. Informasi itu menyangkut bagaimana proses penularan HIV/AIDS juga kesadaran agar menjauhi perilaku berisiko. 

Berbagai Pendekatan 


Berbagai pendekatan juga perlu dilakukan, termasuk pendekatan agama dan budaya. Meski orang banyak apriori terhadap pendekatan ini, setidaknya perlu dicoba. Misalnya, tokoh agama dan tokoh budaya kembali menginternalisasi ajaran masing-masing agama atau  budayanya, bahwa berhubungan seksual bukan dengan pasangan yang sah (zina). Demikian juga menyalahgunakan narkoba baik melalui jarum suntik maupun media lain merupakan perbuatan dosa yang juga dilarang karena akan merusak kesehatan. 

Pendekatan lain pun harus dilakukan. Misalnya, memberi kesadaran kepada siapapaun termasuk yang berperilaku berisiko agar lebih cepat mengatahui apakah dirinya tertular virusHIV/AIDS atau tidak? Seandainya yang bersangkutan sudah tertular HIV/AIDSdiharapkan lebih hati-hati supaya tidak menularkan pada orang lain termasuk orang-orang yang dicintainya.

Tak kalah pentingnya, pendekatan politik dan kekuasaan dengan melibatkan para pemilik kebijakan. Misalnya DPRD dan pemerintah masing-masing daerah mengelokasikan anggaran APBD I/APBD II untuk membiayai sosialisasi mencegahan penyebaran HIV/AIDS juga biaya perawatan para ODHA. Political will ini penting ditingkatkan, mengingat masih banyak daerah yang belum memandang persoalan HIV/AIDS merupakan ancaman terhadap warga daerahnya. 

Semua pendekatan di atas diharapkan terintegrasi serta berjalan pada wilayah masing-masing di samping terus mencari pendekatan yang lebih efektif serta manusiawi dalam mengurangi angka penyebaran HIV/AIDS tersebut. (*)


Milkuat Tiger, Susu Botol Bikin Anakku Hebat

Yang menarik perhatian sikecilku terhadap Milkuat Tiger botol,  bentuknya yang unik. Sebelum tutup aluminum poil merah dibuka, sang Tiger seperti mengenakan mahkota di kepalanya.  Rupanya Milkuat Tiger botol plus ini, kemasan baru ukuran 95 mili liter dan 180 mili liter dengan rasa coklat dan strobery. Kemasan ini pertama kali hadir di Indonesia.
      
Si kecil, minum Milkuat bukan baru kali ini. Sebelum lepas menyusui di usia 20 bulan, Air Susu Ibu (ASI) diselingi minum susu kemasan dus sebagai antisipasi jika waktunya lepas. Minat sikecil minum susu dus kurang memuaskan. Ia ogah-ogahan dengan alasan yang tidak saya ketahui.

Giliran sikecil diajak ke minimarket terdekat, tanpa saya suruh, salah satu pilihannya susu botol kemasan, kebetulan bertuliskan Milkuat. Waktu itu belum ada Milkuat Tiger Botol 95 mili liter.
Mungkin karena tampilan warna menarik bagi anak kecil. Begitu tiba di rumah, sikecil menyeruputnya hingga habis. Si kecil (sulung) yang kini sudah masuk TK itu, suka rasa strobery dan rasa coklat.

Tanpa disengaja, kesukaan si sulung menular pada adiknya yang kini berusia 22 bulan. Si adek sedang dalam proses sapih menyusui, karena usianya akan genap dua tahun tanggal 1 Januari 2013 nanti.
Kini, bila beli oleh-oleh Milkuat botol minimal harus dua. Untuk si adek Milkuat rasa strobery dan si sulung Milkuat rasa strobery atau coklat. Giliran beli satu, keduanya saling berebut hingga nangis-nangis dan mengadu. Anak-anak usia segitu memang menggemaskan.

Salah satu alasan saya dan isteri membiarkan anak-anak konsumsi Milkuat karena mereka sangat menyukainya. Selain itu, dari sisi kandungan nutrisi cukup memenuhi kebutuhan di masa pertumbuhan balita.

Si sulung anteng kalau belajar didampingi Milkuat
Tak sedikit orang tua tidak memperhatikan kandungan gizi asal anak menyukai. Mungkin dalam kondisi tertentu, sayapun bisa berlaku demikian, asal anak suka, jajanan apapun yang secara kasat mata tidak berbahaya akan diberikan.
Berarti sebuah keberuntungan bagi saya. Selain karena kesukaan anak terhadap Milkuat, juga kandungan nutrisinya cukup memadai.

Bila melihat keterangan pada kemasan Milkuat Tiger botol 95 mili liter,  terdapat kandungan kalsium, fosfor, vitamin B1, B3, B5 dan B6, vitamin A, B zat besi dan mengandung zinc. Kalsium merupakan mineral yang paling banyak diperlukan oleh tubuh, 99% pada jaringan tulang, gigi dan sisanya pada darah dan sel-sel tubuh. Menurut para ahli, kebutuhan kalsium harian bayi usia 0 sampai 5 bulan : 400 mg, 6 bulan - 1 tahun : 600 mg, usia 1 - 10 tahun : 800 mg, remaja 11 - 24 tahun: 1.200 mg.

Manfaat kalsium bagi tubuh, untuk pembentukan dan pemeliharaan tulang dan gigi termasuk pada pertumbuhan anak-anak. Kekurangan kalsium mengakibatkan pertumbuhan tulang tidak sempurna.   Sementara, kandungan zat besi pada Milkuat Tiger botol 95 mili liter hamper sama dengan kandungan zat besi pada dua telur. Kandungan zincnya sebanding dengan kandungan zinc pada 4 telor ayam. 

Si sulung dan adeknya, sama-sama suka Milkuat. 
Zat besi dan zinc sangat dibutuhkan supaya anak kuat secara fisik, cerdas secara pikiran. Kekurangan zat besi berdampak kecerdasan dan prestasi di sekolah rendah, canggung dalam pergaulan serta kurang dalam keterampilan memecahkan masalah. Kekurangan zinc berdampak pada ganguan pertumbuhan anak, fungsi kekebalan tidak sempurna dan fungsi pencernaan terganggu sehingga anak susah makan.  

Fosfor dan magnesium, vitamin D, zinc dan zat besi, kandungan ini sangat diperlukan untuk mengolah kalsium dalam tubuh. Hasil perhitungan para ahli Milkuat, saya sangat percaya, takaran seimbang, tidak akan berlebihan antara satu dan yang lainnya.

Sayapun jadi semakin mantap, pilihan dan kesukaan anakku minum Milkuat botol merupakan pilihan tepat. Lebih meyakinkan lagi, karena Milkuat Tiger diproduksi oleh perusahaan ternama di tanah air juga di dunia yakni Danone Grup, merupakan pelopor produsen industri makanan yang beroperasi lebih di 120 negera.
  
Saya sangat bersyukur pula, kedua anakku jarang sakit, tidak mudah flu, pilek dan batuk bila musim hujan atau pancaroba. Boleh jadi itu karena konsumsi tepat dan salah satunya Milkuat.

Oo  ia, masih ada kabar baik sahabat Milkuat –meski mungkin ini tidak terlalu istimewa bagi orang lain. Si sulung sudah bisa membaca bahkan sempat membaca judul dan satu alinea artikel ini saat diketik.
Pada kata MILKUAT, seketika ia menghentikan bacaannya. “Milkuat itu susu yang dalam botol ya ayah…?” tanyanya. (*)




Suka minum Milkuat, prestasi mudah didapat













Lupa Waktu, Tenggelam ke Masa Silam Jakarta di Kota Tua

Salah satu objek wisata sejarah yang paling mengasyikan di Jakarta bagi saya sebuah cagar budaya Kota Tua. Bagaimana tidak, bila selama ini kita kenal dengan gemerlap kota metropolis yang tak pernah mati selama 24 jam, memasuki Kota Tua serasa berkunjung ke masa lampau, menyelam ke dasar peradaban ratusan tahun silam.
Baru satu kali saya berkunjung ke Kota Tua ini. Waktu itu pertengahan tahun 2012 seusai menghadiri gathering jurnalis se-Jawa Barat dan Banten dari Bank Indonesia.

Salah satu koleksi museum Museum Sejarah Jakarta Kota Tua- Jakarta
/Dok Pribadi
Saya masuk melalui pintu gerbang sebelah selatan. Di kiri terlihat Museum Bank Indonesia berseberangan dengan Museum Bank Mandiri dengan arsitektur megah khas Belanda. Sehari sebelumnya saya sempat memasuki museum Bank Indonesia itu bersama rombongan.
Sejak pintu gerbang, di kiri-kanan berjejer gedung-gedung arsitek khas neo skolastik, abad 16-17. Selang puluhan meter di sebelah kanan, terdapat lapangan yang  cukup luas. Di depan lapangan itulah berdiri megah Museum Sejarah Jakarta atau terkenal dengan Museum Fatahillah. Kompleks ini termasuk Jalan Pintu Besar Utara.
Menurut brosur yang diberikan petugas, museum pada masa kemerdekaan bernama Museum Djakarta Lama di bawah naungan Lembaga Kebudayaan Indonesia (LKI). Selanjutnya pada tahun 1968 Museum Djakarta Lama diserahkan kepada Pemda DKI dan pada tanggal 30 MAret 1974, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin meresmikan gedung ini menjadi Museum Sejarah Jakarta.
Beberapa meriam zaman dulu terpasang kokoh di depan museum, semakin mengesankan kegagahan kantor ini tempo dulu. Gedung yang pada tahuan 1707-1710 sebagai bangunan Balai Kota ini, konon kabarnya, gaya arsitekturnya persis bangunan Istana Dam di Amsterdam. Terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara.
Sebelum masuk, saya sempat keliling menghabiskan kepenasaran saya akan kota eksotik ini. Ternyata ada juga museum lain, diantaranya Museum Wayang. Dari bagunan yang kurang terawat itu, terdengar suara gamelan Jawa menambah kesan jadul.
Di pinggir lapangan banyak sekali sewaan sepeda perempuan dengan aksesories topi khas noni-noni Belanda, berwarna putih atau krem. Tak cukup di situ, mata saya terpesona batu balok hitam yang menjadi lantai sepanjang jalan, ukuran 20 cm X 30 cm.
Cafe Batavia/dok pribadi
Untuk kuliner, banyak sekali yang menjual makanan tempo dulu, seperti makanan khas Betawi, termasuk angkringan khas Jogjakarta dengan berbagai aksesoriesnya. Say ajuga melihat kafe tempo dulu, bertuliskan Café Batavia. Di kafe ini pengunjungnya banyak turis bule, mereka konkow sambil menyaksikan kemeriahan suasana.
Sayang, karena terlalu banyak penjual, wajah Kota Tua sedikit murung, sampah berserakan di mana-mana, selokan banyak genanangan air kotor. Demikian juga bangunan banyak tidak terawat. Atap-atapnya bolong, dinding terkelupas dan pintu-pintu lapuk. Seandainya direkunstrikasi tanpa meninggalkan bentuk bangunan asli, mungkin Kota Tua ini akan menjadi destinasi wisata sejarah di Indonesia nomor wahid.
Memasuki Gedung Museum Sejarah Jakarta kebetulan masih gratis. Begitu masuk pintu utama, di sebelah kiri terlihat tiga patung, dua patung sedang dieksekusi mati di tali gantungan, satu lagi sebagai tentara membawa pedang. Banyak pengunjung yang mengabadikan momen pemandangan yang agak ngeri itu. Kebetulan saya jalan sendiri, terpaksa minta bantuan kepada pengunjung lain yang memerlukan bantuan mengabadikan moment.
Dari ruangan ini, ada pintu lansung menuju ruang utama, dengan teras tangga sekitar satu meter. Bisa juga menuju lantai dua melalui tangga kayu jati yang kokoh sebelah kanan. Bila masuk ke ruangan sebelah kiri, di sini terdapat  berbagai hiasan ukiran dari bahan kayu Jati. Menuju ruang berikutnya, pengunjung dapat menemukan kamar tidur para pejabat dulu dengan ranjang dari anyaman rotan.  
Melihat jendela dan pintu antara satu ruangan dengan ruangan lain, terlihat sangat lebar. Yang unik lagi, bila melihat langit-langit gedung yang dijadikan lantai dua, ternyata menggunakan bahan kayu, termasuk semua lantai dua terbuat dari papan kayu.
Memasuki lantai dua, ruangan sangat tinggi dan lebar. Dari lantai ini saya dan pengunjung lain menyaksikan lapangan sesak dengan pedagang dan pengunjung.  Di sini ornamen tempo dulu masih utuh, seperti hiasan kayu, kursi pertemuan, lemari-lemari, bahkan cermin besar masih terpasang.
Penulis berfoto di belakang museum/dok pribadi 
Sayang, memasuki museum Sejarah Jakarta itu  sudah sore. Jam menunjukkan hampir pukul lima, petugas sudah mengingatkan agar pengunjung segara keluar karena pintu segera ditutup. Saya keluar melalui pintu belakang dan di sana ada lapangan kecil seukuran 3 kali lapangan basket. Tepat di bawah tangga pintu keluar belakang itu, terdapat ruang lembab dan gelap. Rupanya ini tempat para tahanan zaman dulu dipenjara.
Beberapa pengunjung sangat antusias melihat ruangan pengap ini. Saya mencoba membayangkan bagaimana para tahanan dulu bisa merasakan pengapnya penjara bawah tanah itu. Di luar gedung keramaian Kota Tua semakin terasa meriah.
Sayang saya juga tidak bisa menghabiskan waktu hingga malam, karena harus segera pulang ke Tasikmlaya sore itu juga. Jika terlalu malam, kawatir ketinggalan Bus, mengingat dari lokasi kota tua harus naik satu kali bis ke terminal.
Waktu hanya beberapa jam di Kota Tua begitu singkat, tenggelam pada masa silam Jakarta yang mempesona. Bayangan saya betapa meriahnya di pusat kota ini zaman dulu, pesta  para  pejabatnya, kegenitan para noni-noninya serta seramnya para penjaga kemanan kempleks perkantoran itu.
Yang harus diperhatikan memasuki destinasi ini, pengunjung tidak mudah menemukan kamar kecil yang nyaman atau mushala yang representatif. Yang saya temui tulisan WC, kamar mandi dan mushala di pojok-pojok gedung yang sudah kumuh dengan penjaga yang agak seram. Waktu shalat, saya menemukan masjid di kompleks perkantoran, melintasi jalan, sekitar 300 meter dari lokasi Kota Tua.
Dari sisi akses transportasi, menuju museum ini sangat mudah. Tak jauh dari Kota Tua, terdapat Stasiun Kota yang menghubungkan transportasi ke berbagai daerah dengan Kereta Api, juga halte busway dan jalan raya yang dilewati bus kota. Antara lain menuju terminal lebak Bulus, menggunakan Metro Mini dan menuju Terminal Kampung Rambutan menggunakan Bis Mayasari Bhakti. Menuju dua terminal tersebut hanya satu kali naik.
Sayapun tergesa-gesa menuju lintasan Metro Mini, sambil mengenang pesona Kota Tua yang telah menceritakan kisah berabad-abad Jakarta dengan segudang interpretasi yang membekas dalam pikiran setiap pengunjungnya. (*)  

Suasana museum Sejarah Jakarta lantai 2/dok pribadi 

Gedung Museum Sejarah Jakarta dari depan/dok pribadi
Salah satu sudut Kota Tua/dok pribadi







Ekspedisi Fantastis 7 Wonders, Menyusuri Surga Kopi Sumatera dengan Daihatsu Terios

Perjalanan fantasitis dari petualangan Terios 7-Wonders ke Pulau Sumatera. Ekspedisi ini berlangsung selama 15 hari, 10-25 Oktober 2012 sejauh 3.657 kilometer dengan menggunakan tiga unit Daihatsu Terios HI-Grade Type TX AT (2 unit) dan TX MT (1 unit).  
Rombongan  sebanyak 10 orang, start di Jakarta dan berakhir di kilometer 0 Banda Aceh yang terkenal dengan sebutan Serambi Mekkah itu. Pulau Sumatera yang terkenal dengan sebutan surga kopi akhirnya tertaklukan dan menyisakan aroma kopi yang menggoda.   
Salah satu tujuan perjalanan, memberi imej Terios memang layak diandalkan sebagai Sahabat Petualang di jalan serta rute apapun. Panas bukan halangan, hujan tidak jadi rintangan. Perjalanan tim 7 Wonders untuk memperomosikan tanah air sebagai penghasil kopi yang mulai terkenal ke mancanegara. Termasuk di dalamnya Kopi Luwak yang hanya satu-satunya diproduksi di Indonesia.
Rombongan berhasil menyusuri 7 sentra perkebunan kopi legendaries itu. Yakni Liwa – Lampung Barat, Lahat, Pagaralam, Empat Lawang, Curup–Kepahiang masing-masing Sumatera Selatan. Selanjutnya Mandailing Natal - Medan dan Takengon.
Tidak hanya itu, sebagai kepedulian Daihatsu, di perjalanan tim 7 Wonders menyerahkan Corporate Sosial Responsibility (CSR) kepada Posyandu serta kepada pelaku Usaha Kecil, Mikro dan mengah (UMKM). CSR tersebut diserahkan di Bengkulu juga 3 ekor sapi kurban di Masjid Raya - Banda Aceh.

Menguji Keandalan Terios.
Perjalanan ini tidaklah main-main. Karena, selain jalur yang panjang, mulai Jakarta hingga Banda Aceh, trek sangat bergelombang. Jakarta sangat nyaman dilalui Terios berkapasitas mesin 1500 CC, tetapi memasuki sudut-sudut perkebunan kopi, jalan menantang seolah menjajal keandalan 3 Terios yang menjadi tunggangan 10 anggota tim.
Salah satu medan yang cukup ekstrem begitu tim 7 Wonders  meninggalkan Kota Lampung  menuju Liwa, lampung Barat. Wilayah ini berupa pegunungan, jalan banyak sekali tikungan pendek dan tajam, menurun juga menanjak begitu cepat.
Kondisi ini memerlukan ekstra hati-hati saat menempuhnya. Begitupun ketika mamsuki Kota Pagaralam  sekitar 20 menit perjalanan dari Kabupaten Lahat, tepatnya di Curup Bengkulu, sepanjang jalan didominasi hutan lebat dan pegunungan. Sebuah jalan yang sangat kontras dengan kondisi jalan-jalan di Jakarta atau bahkan di Pulau Jawa
Tiga Terios dan tim juga diuji bentangan jalan yang udaranya bersuhu 35 celcius. Misalnya perjalanan menuju Bukittinggi melalui Muko-Muko. Sepanjang jalan didominasi pantai, meski tetap kondisi jalan menikung, tanjakan dan turunan.
“Petualangan kami melalui rute Pantai Barat memang terasa berbeda. Kalau sebelumnya didominasi pegunungan dan hutan, kini lebih banyak menikmati pemandangan pantai. Selain cuaca panas menyengat berkisar 35 derajat celcius, tikungan-tikungan pun lebih tajam. Sementara karakter tanjakan dan turunannya kurang lebih sama dengan jalur sebelumnya. Performa 3 Terios yang kami bawa ternyata masih tetap mantap. Walaupun kami  “siksa” untuk melahap rute yang dilalui, semua berhasil diatasi dengan sempurna,” demikian catatan team.
Dari catatan itu saja sudah cukup meyakinkan, bahwa performa tiga Terios yang dikendarai tim 7 Wonders keandalannya terbukti di segala medan dan cuaca.

Kopi Sumatera Kekayaan Indonesia
Kini giliran mengekplorasi kekayaan alam Indonesia, Kopi Sumatera yang sudah melegenda sejak puluhan bahkan ratusan tahun silam. Dari 7 destinasi sentra kopi Sumatera, proses pembuatan tidak jauh berbeda.
Ada yang menggunakan mesin modern atau campuran antara mesin dengan peralatan tradisional. Baik di Liwa – Lampung Barat, Lahat, Pagaralam, Empat Lawang atau Curup–Kepahiang, proses pembuatan nyaris sama. Paling modern pengolahan kopi mengunakan mesin Engerberg Huller produksi USA dengan penggerak diesel berbahan bakas solar.
Sementara trik memilih biji kopi berkualitas baik atau menakar kematangan sangria  biji kopi supaya aroma pas, umumnya keahlian yang diwariskan turun temurun.  
M Khodis salah seorang penyuluh pertanian setempat yang juga pemilik kebun kopi, kepada tim 7 Wonders mengatakan, petani di Liwa sudah berani berinovasi dengan rasa kopinya. Ada dua aroma, yang telah ditemukan, yakni kopi gingseng dan kopi pinang.
Dengan takaran tertentu dari hasil ujicoba yang berulang-ulang, campuran kedua bahan baku itu menghasilkan aroma kopi yang berbeda tanpa meninggalkan kekhasannya. Untuk pengembangan lebih lanjut, Khodis berharap ada investor yang berminat membantu permodalan.

Yang Beda dari Kopi Luwak
Berikutnya, membuat penasaran tim 7 Wonders soal Kopi Luwak. Kopi yang menggegerkan perkopian dunia itu, selain rasa yang super duper mantab, juga harganya selangit. Per kilogram di tingkat petani mulai Rp400.000 hingga jutaan rupiah. Kopi biasa kualitas istimewa, paling mahal mencapai puluhan ribu rupiah.
Sentra Kopi Luwak, tidak jauh dari Danau Ranau, danau terbesar kedua di Pulau Sumatera. Dan inilah perbedaan paling mendasar Kopi Luwak dengan kopi lainnya. Yakni proses pembuatannya.
Menurut pemaparan Pak Hidayat, pemilik kebun kopi, pembuatan Kopi Luwak mesti melibatkan Musang. Caranya, Musang diberi makan kopi apakah di kandang atau sebaliknya, dibiarkan keliaran di dalam kebun.
Musang akan memakan biji kopi terbaik. Biji kopi yang termakan ini terpermentasikan dalam perut Musang dan keluar bersama kotoran menggumpal, di mana biji kopi sudah terkelupas tanpa cangkang.
Gumpalan biji kopi itulah kemudian dicuci sebelum dijemur, digarang dan dihaluskan layaknya membuat kopi lain. Proses inilah yang menakjubkan dari Kopi Luwak. Hingga kini permenetasi dalam perut Musang belum bias tergantikan oleh permantase sintetis atau buatan. Sehingga rasa kopinyapun belum tergantikan.
Dari perjalanan tim 7 Wonders juga dapat disaksikan, pemerintah dan masyarakat di sentra kopi Sumatera sudah sangat sadar dengan potensi daerahnya. Di Kabupaten Empat Lawang misalnya, Kopi sudah menjadi mascot daerah. Kopi juga menjadi lukisan batik yang menjadi baju resmi pegawai pemda. Daun kopi sudah berhasil diolah menjadi kerajinan menarik seperti untuk wadah tissue.
Menurut Anang petani kopi setempat kepada tim 7 Wonders, di Kabupaten Empat Lawang hampir semua wilayah terdapat sentra kopi yang hasilnya sudah bisa diandalkan. Jika musim penan, kopi banyak dikirim ke daerah lain dan diklaim oleh daerah tersebut. Kopi Ampat Lawang memilki kekhasan tersendiri. Ia merupakan campuran antara Robusta dan Arabica, wujud Arabica tetapi aroma Robusta.
Pemerintah daerah dan masyarakat katanya, sedang mewujudkan showroom perkopian supaya kopi yang melimpah itu benar-benar dapat member hasil maksimal bagi petani dan masyarakat.
Kita hanya berharap, dari perjalalan tim 7 Wonders ke surga Kopi ini sedikit banyak memberi arti bagi kekayaan alam dan budaya Bangsa Indonesia. Minimal kita menyadari, kekayaan negeri sendiri patut mendapat apresiasi, dilestarikan sebagai identitas warisan budaya Bangsa Indonesia. Jaya Kopi Luwaknya, Andal Mobil Daihatsu Teriosnya (*)   




BNI Syariah Terus Bergerak Menjadi Pilihan Masyarakat

Juni 2012 saya mengikuti grand launching BNI Syariah Cabang Tasikmalaya di Jalan Kaum yang posisinya berseberangan dengan Masjid Agung Tasikmalaya.  BNI Syariah yang diresmikan itu, kantor cabang ke-180 BNI Syariah dari 1.500 cabang BNI di seluruh Indonesia.

Menurut Direktur Operasional BNI Pusat, Zunaedi Hisam, pasar perbankan syariah masih luas. Sebanyak 61% masyarakat Indonesia belum terakses terhadap jasa perbankan, baik konvensional maupun syariah. Nasabah perbankan syariah loyal baru 9% dan nasabah loyal perbankan konvensional 20%-30%. Kondisi tersebut sebuah kesempatan bagi BNI Syariah dalam ekspansi bisnisnya plus menjalankan syiar sehingga BNI Syariah terus membuka cabang di seluruh Indonesia.

Selang tiga bulan, penulis mewawancarai general manager BNI Cyariah Cabang Tasikmalaya Imam Hadiman Hanafi. Menurutnya, ada perkembangan cukup signifikan dalam waktu relatif singkat di BNI Syariah Tasikmalaya baik asset serta aksestabilitas masyarakat. Salah satu produk  yang sangat diminati antara lain pembiayaan program dana perencanaan haji mencapai Rp1,5 miliar. Respons bagus juga terhadap produk kepemilikan rumah atau dikenal dengan Griya iB Hasanah. Produk ini merupakan pembiayaan rumah  dengan nominal di bawah Rp300 juta per unit.

Secara nasional menurut laporan berbagai media massa, hingga September 2012 pembiayaan di BNI Syariah mengalami pertumbuhan sebesar 24 % atau mencapai Rp6,6 triliun dari target pembiayaan BNI Syariah tahun 2012 sebesar Rp7,3 triliun. Dari total pembiayaan tersebut, lebih 80% disalurkan kepada ritel sebesar Rp5,7 triliun dan sisanya disalurkan untuk bidang komersial.

Di sektor ritel, pembiayaan terbesar untuk perumahan sebesar Rp2,9 triliun. Sisanya disalurkan pada pembiayaan mikro Rp135 miliar dan kartu Hasanah Rp287 miliar serta ritel produktif. Pembiayaan mikro ditargetkan mencapai Rp290 miliar pada tahun 2012. Untuk menyasar pembiayaan mikro, BNI Syariah juga menyalurkan pembiayaan mikro dan membangun sebanyak 49 outlet mikro. Tahun 2012 ditargetkan tersedia 61 outlet.

Tidak terlalu mengherankan bagi BNI Syariah mengalami perkembangan usaha cukup cepat baik sekala nasional maupun cabang. “BNI” sudah melekat di masyarakat sebagai BUMN yang kredibel dalam menjalankan bisnis kauangannya. Secara tidak langsung BNI Syariah mendapat “barokah” dari kredibilitas bank induk sehingga aksestabilitas masyarakat terhadap BNI Syariah pun cukup bagus.

Setidaknya ada beberapa pertimbangan masyarakat dalam memanfaatkan layanan perbankan. Pertama, kredibilitas bank dalam bisnisnya. Kedua, jumlah jaringan dan infrastruktur teknologi informasi (TI). Ketiga, keandalan likuiditas sehingga tidak akan “kehabisan uang” di tengah jalan saat terjadi rush. Nampaknya dari tiga asfek tersebut BNI Syariah sangat memadai.    

Seperti diungkapkan Manager BNI Syariah Cabang Tasikmalaya Iman Hadiman Hanafi, dalam pemanfaatan TI BNI Syariah tak kalah dengan bank modern lain. Layanan TI menggunakan jaringan yang sama dengan BNI konvensional tanpa mencampurkan transaksi syariah dan konvensional nasabah BNI. Bukti keandalan, semua nasabah BNI Syariah bisa memanfaatkan jaringan ATM berlogo BNI (konvensional) tanpa dikenakan biaya tambahan. Sehingga aktifitas transaksi perbakan secara online di BNI Syariah sudah sangat mudah.

Sementara dari sisi produk-produk BNI Syariah, boleh jadi mewakili berbagai produk serta keperluan pemanfaatan layanan perbankan baik dalam investasi atau pembiayaan. Mulai keperluan personal, bisnis hingga koorporasi dapat terlayani dalam variasi produk BNI Syariah sesuai peruntukannya.

Misalnya pembiayaan kepemilikan pembelian sepeda motor/mobil  (OTO iB Hasanah), pembiayaan setoran awal Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) (THI iB Hasanah) hingga pembiayaan pembelian atau renovasi rumah. (Griya iB Hasanah).

Untuk keperluan bisnis koorporasi, produk-produk BNI Syariah yang dapat diamanfaatkan antara lain, pembiayaan proyek oleh beberapa lembaga keuangan (Sindikasi iB Hasanah) bahkan pembiayaan modal kerja ekspor (Ekspor iB Hasanah).

Tentu dalam menjalankan fungsi intermediasi perbankan, BNI Syariah taat terhadap asas kehati-hatian. Sebagai lembaga bisnis ia mengejar target laba juga mensejahterakan karyawannya di samping menjalankan amanah dalam bermuamalat tanpa menghilangkan unsur syiar serta profesionalisme Sumber Daya Syariahnya (SDS) nya.  Sehingga visi “menjadi bank syariah pilihan masyarakat yang unggul dalam layanan dan kinerja” itu segera terwujud. Amiin (*)




TO Kuliner Khas Tasikmalaya yang Naik Kelas

Tutug Oncom atau terkenal dengan TO seolah-olah makanan yang terlahir kembali. Bila zaman dulu, TO dianggap makanan kampungan atau bahkan makanan “sampah”, kini sebaliknya, TO digemari semua kalangan baik usia muda atau tua.  TO pun mulai naik kelas. Bahkan Hotel Santika  Tasikmalaya menjadikan TO ini hidangan khas daerah yang disajikan kepada para tamu-tamunya

TO merupakan nasi yang dicampur oncom yang telah dihaluskan dilengkapi bumbu-bumbu tertentu. Sepintas, hidangan TO mirip nasi tercampur butiran pasir. Warnanya putih kehitam-hitaman. Di Kota Tasikmalaya warung TO sangat mudah dijumpai. 

Antara lain di bilangan Jalan Badan Keamanan Rakyat (BKR), warung-warung TO dengan kapasitas tempat duduk massal. Desain warungpun mirip jaman dulu, beratap ijuk, dinding terbuat dari bilik bambu dilengkapi meja makan lesehan. Satu meja untuk 4-6 orang.

Salah satunya Warung TO Mr. Rahmat. Warung yang sudah beroperasi dua tahun ini sehari melayani ratusan pengunjung yang sengat beragam, mulai pejalan kaki hingga bermobil mentereng.
Tutug Oncom (TO)

Owner Warung TO RM. Rahmat, Agus Priatna mengaku, omset penjualan di warungnya sehari antara Rp3 juta- Rp4 juta. Ia buka mulai pukul 8 pagi hingga pukul 9 malam dengan 10 pekerja.
Apa yang membuat TO kini digemari? Jawaban Agus –pengusaha yang juga mantan anggota scurity sebuah bank swasta ternama ini, ada kerinduan masayrakat terhadap makanan tradisional.

Enak Dimakan Bareng Mendoan
Sejak awal beridiri kisah Agus, warung TO nya tidak pernah sepi pembeli, meski di daerah sekitar sudah banyak warung serupa dengan tawaran variasi makanan. Tentu kreatifitas untuk mempertahankan pelanggan selalu diperlukan. Misalnya, memperkaya menu minuman segar juga lauk-pauk yang cocok dihidangkan dengan TO. 
TO tetaplah TO tidak bisa disulap menjadi makanan lain. Ternyata paling diminati pembeli, TO dihidangkan bersama mendoan atau bala-bala plus sambal. Lauk lain sekedar melengkapi seperti goreng dadar telor, gorang ayam apabaila ada permintaan pengunjung.

Masih soal cara makan TO, diceritakan Fuji Astuti karyawan warung Nasi TO Lekker di Bilangan Jalan Otto Iskandar Dinata Kota Tasikmalaya. Fuji menjelasakan, TO biasanya dimakan dengan sambal hijau, sambal terasi dan lalap terung hijau, leunca juga kemangi. Sedangkan lauk bisa dilengkapi dengan goreng tempe, tahu, ikan asin jambal plus  goreng daging ayam atau dadar telor ayam.  
Fuji menyebutkan, di warung yang didirikan sejak tahun 1984 itu, tak jarang pengunjungnya para inohong (tokoh) Tasikmalaya, mulai wali kota dan jajarannya atau bahkan keluarga tokoh nasional.

Sejarah TO
TO menurut cerita rakyat masyarakat Tasikmalaya mulai hadir sejak penjajahan Jepang. Saat itu karena masyarakat mengalami kekurangan pangan dan lauk pauk, masyarakat yang kreatif mencoba memanfaatkan ampas pembuatan tahu hingga menjadi oncom bahan TO. 
TO saat itu masih dianggap makanan rakyat yang tidak bernilai. Ia identik dengan makanan murahan yang hanya dikonsumsi rakyat kecil.  Namun kini TO sudah naik kelas. Ia ada di restoran kaki lima hingga restoran bintang lima dengan harga fariatif. 
Di  Kota Tasikmalaya, penjual TO mulai marak sejak tahun 2008. Sebelumnya hanya beberapa pedagang yang membuat TO. Seingat penulis, TO di Tasikmalaya telah lama berdiri, selain TO Lekker tadi, yakni TO Benhil di Dadaha, tepatnya depan kampus Universitas Pendidikan Indonesia  (UPI) Tasikmalaya.

Nutrisi TO
Nutrisi TO bisa dilihat dari asal muasal oncom. Dari bahan TO yakni nasi dan oncom, nasi tentu menjadi sumber karbohidrat layaknya makanan  lain yang terbuat dari beras. Sedangkan dari oncom menurut Wikipedia dan beberapa sumber,  ternyata mengandung gizi yang relatif baik. Kandungan karbohidrat dan protein oncom cukup tinggi terutama oncom yang terbuat dari bungkil kacang tanah.
Sementara populasi kapang pada oncom diyakni dapat menekan produksi aflatoksin dari aspergillus flavus yang telah mencemari substrat (bungkil). Degradasi yang dilakukan oleh kapang menyebabkan beberapa oligosakarida sederhana seperti sukrosa, rafinosa dan stakhiosa menurun pesat kandungannya akibat aktivitas enzim α-galaktosidase yang dihasilkan kapang. Kondisi ini sangat baik bagi pencernaan karena rafinosa dan stakhiosa bertanggung jawab atas gejala flatulensi yang dapat muncul bila orang mengonsumsi biji kedelai atau kacang tanah.
So, yang mau ke Tasikmalaya, jangan lupa, mampir ke warung-warung TO. Dijamin pingin balik lagi. (*) 

Ini Dia Alasan Perlu Merawat Kulit Malam Hari

Ternyata, kehilangan kandungan air pada kulit manusia terjadi pada malam hari sekitar 25%, ketimbang kehilangan air pada pagi atau siang hari. Padahal asumsi awam, malam hari kondisi aman bagi kulit karena tidak sepanas siang hari. Penyebabanya menurut para ahli, karena pada malam hari itu terjadi pembelahan sel lapisan kulit.
Oleh karena itu, bukan berarti malam hari tidak perlu menggunakan pelembab. Justeru pelembab lebih banyak dibutuhkan kulit karena sedang kerja ekstra meregenerasi kulit yang sedang mengalami pembelahan.
Perawatan kulit dari luar umumnya dengan melulurkan lotion. Lotion akan merawat kesehatan kulit agar tidak kering dan nampak keriput. Merawat kulit mesti dilakukan secara rutin. Sepulang bekerja atau olahraga, bersihkan permukaan kulit terlebih dahulu dan jangan biarkan kosmetik menempel terbawa tidur termasuk bedak rias wajah, karena akan menutupi pori-pori serta mengundang bakteri.  
Setelah kulit dibersihkan, berikan lotion untuk menjaga kelembabannya. Ingat, tidak hanya kulit wajah yang mesti diberi pelembab, kulit tangan dan yang menurut anda penting, itupun harus jadi perhatian.
Beberapa produsen lotion kini berlomba-lomba membuat inovasi lotion digunakan khusus malam hari. Unilever misalnya, telah meluncurkan Citra Night Whitening. Dalam launching Citra Night Whitening beberapa waktu lalu, Brand Manager Citra Body Lotion, Johan Lie mengatakan, body lotion yang diciptakannya merupakan penggabungan dari dua bahan alami yaitu ekstrak mulberry dan minyak biji anggur. Kedua ekstrak tersebut diyakni mampu meregenerasi serta melembabkan kulit pada malam hari. Selain bisa digunakan sendiri, konsumen juga bisa menikmati sensasi Citra Night Whitening ini di Rumah Cantik Citra di seluruh tanah air.  (*)




Hilangkan Percaloan Pasang Listrik, Pejabat PLN Perlu Baca Ini

Praktik-praktik percaloan selalu ada kapan pun dan di manapun. Hanya saja, praktik percaloan yang paling santer diberitakan, calo tiket Kerata Api (KA) saat musim mudik, calo pembuatan SIM dan STNK atau lebih luas calo PNS.

Ada juga sebenarnya calo yang tidak terlalu gencar diberitakan media, tetapi keberadaannya sangat dirasakan masyarakat. Berdasarakan pengalaman tetangga dan saudara yang akan pasang listrik ke kantor PLN, selalu ada orang yang menawari atau berniat baik “membantu” mengurus adminisitrasi pendaftaran. 

Anehnya, calo pemasangan ini orang dalam PLN atau para pekerja CV yang menjadi rekanan PLN yang kebetulan sedang mangkal di kantor PLN.
Yang paling dirasakan proses pencaloan terjadi di unit Kantor Pelayanan (KP). KP ini di bawah koordinasi kantor Unit Pelayan Jaringan (UPJ) baik tingkat kota atau kabupaten bernama Area Pelayanan Jaringan (APJ). Di daerah tempat tinggal saya, Kabupaten Tasikmalaya yang terdiri dari 39 kecamatan, masih ditangani oleh UPJ, sementara APJ berkantor di Kota Tasikmalaya.

Umumnya, harga pasang listrik jika melalui calo, menjadi dua kali lipat. Misalnya kalau pasang KWH 450 watt harga normal Rp750.000 bisa menjadi antara Rp1 juta- Rp1,5 juta.  Para calon pelanggan terpkasa memilih menguruskan daftar pasang listrik baru kepada calo, karena di KP tidak bisa langsung membayar pendaftaran. Daftar langsung bayar hanya bisa dilakukan di kantor UPJ.

Di kota-kota besar, untuk mendatangi kantor UPJ tidak masalah, kendaraan banyak juga jarak tempuh tidak jauh. Bagi masyarakat di pelosok, untuk mencapai kantor UPJ menghabiskan waktu 3-4 jam perjalanan. Belum lagi, di kantor UPJ mereka dihadapkan kepada para calo-calo pula.

Masyarakat sebenarnya yang ingin langsung mendaftar ke kantor UPJ. Tetapi mereka tidak memiliki keberanian, apalagi  ungkapan-ungkapan dari pegawai KP seolah-olah menakut-nakuti, kalau langsung daftar ke UPJ, mereka tidak akan dilayani.  Dengan kondisi seperti ini, masyarakat yang lugu, memilih membayar lebih mahal kepada calo di KP PLN, dengan harapan kepastian waktu serta kemudahan. Padahal, sepanduk besar di kantor terpasang, termasuk daftar harga pasang listrik baru atau menaikkan daya.

Untuk menghilangkan percaloan di tingkat KP, semestinya PLN memebuat kebijakan, pendaftaran langsung ditangani langsung oleh KP. Kalau perlu, pendaftaran dilakukan secara online, memanfaatkan teknologi internet yang sudah masuk ke seluruh pelosok nusantara. Sehingga masyarakat lebih mudah serta memiliki kepastian saat membayar, mereka langsung dapat kuitansi lunas. Sementara jika melalui calo di KP, paling untung diberi kwitansi “pasar” tanpa cap PLN. Masih untung pake kwitansi, yang tidak pakai, giliran listrik tidak pernah terpasang, siapa yang mesti dituntut karena tidak ada legalitas penyerahan uang.

Berikutnya, seringkali masalah terjadi dalam penanganan lsitrik dari pra bayar ke pascabayar atau token. Kebijakan PLN saat ini, setiap pelanggan yang menaikkan daya listrik, otomatis akan diganti dengan listrik token. Alasannya, supaya pelanggan bisa lebih mengatur biaya listrik selain itu akan menekan angka tunggakan PLN.

Seringkali, datang tagihan listrik prabayar beberapa bulan kemudian. Beberapa kasus, pelanggan bersangkutan tiba-tiba diberi teguran karena lambat dalam pembayaran bulan bersangkutan. Pdahal pelangan itu telah beralih kepada listriktoken. Pelanggan mau tak mau harus membayar dobel dalam bulan yang sama, listrik prabayar dan listirk token, meski sekedar bayar abudeman.

Saya menggaris bawahi, kasus-kasus seperti ini muncul akibat data di PLN pelanggan bersangkutan masih menggunakan meteran listrik lama. Pertanyaannya mengapa itu bisa terjadi? Padahal, jika kita menaikkan daya listrik, salah satu syaratnya harus bayar tagihan bulan tersebut. Kalau tidak bayar, otomatis secara prosedural tidak bisa dilayani.
Kasus seperti itu karena pemasangan melalui calo juga meski mereka merupakan petugas CV rekanan PLN.  Para rekanan tersebut berani memberikan pelayanan dalam waktu singkat misalnya satu hari dua hari pasang, sementara bila langsung mendaftar kepada PLN, harus menunggu satu hingga dua minggu. Bagi pelanggan yang betul-betul terdesak kebutuhan penggunaan listrik, memilih menghubungi para calo yang juga rekanan PLN itu, agar daya lsitriknya cepat dinaikkan.

Kemungkinan, calo bersangkutan menaikkan listrik terlebih dahulu, sementara pengurusan administrasi data base di PLN belakangan. Sehingga muncullah tagihan listrik prabayar, meski pelanggan sudah menggunakan listrik pascabayar.
Uniknya lagi, saya pernah langsung datang kepada customer service PLN UPJ, menanyakan harga menaikkan daya listrik. Jawaban resepsionis, harga hampir sama dengan memasang listrik dengan daya yang sama. Sementara, ketika saya menanyakan kepada tetangga yang juga petugas CV rekanan PLN, harganya jauh lebih murah serta waktu pengerjaan super cepat.   

Dalam kasus seperti ini, sepertinya reformasi PLN harus dibarengi pembenahan kinerja mitra-mitra PLN di lapangan, seperti rekanan pemasangan instalatir. Sehingga semangat PLN sebagai lembaga usaha milik negara yang berorentasi bisnis dan sosial itu, akan dirasakan juga oleh mitra-mitra PLN. Kalau tidak, sia-sia saja PLN mendisiplinkan karyawannya sementara  mitra-mitra kerjanya masih tidak disiplin. Misalnya, jika aturan PLN dalam menaikkan daya listrik harga sekian, harus sama dengan harga yang diberikan oleh mitra PLN termasuk waktu pengerjaannya. Sehingga tidak ada istilah “mendingan jalur belakang, bisa cepat dan murah,”.

Namun demikian secara umum, PLN kini sudah nampak berbenah, baik dalam pelayanan adminsitratif maupun  pengelolaan jaringan. Kondisi ini semakin dirakan ketika Dahlan Iskan menjabat Dirut PLN. Meski tentu saja, itu bukan semata-mata keberhasilan Dahlan Iskan. Seperti kata Dahlan sendiri, orang PLN sangat cerdas-cerdas karena mereka berlatar belakang teknis, sehingga begitu ada perubahan, bisa lebih cepat merespon dan menyesuaikan.

Nah apa salahnya, jika semangat “energi terbarukan” itu terus ditanamkan hingga kini, sehingga PLN benar-benar menjadi BUMN yang menjadi penggerak denyut nadi perekonomian masyarakat. Apalagi PLN kini masih pemain tunggal dalam jualan listrik, ia lebih leluasa dalam memperbaiki citra dan kinerja dirinya karena tidak akan dipusingkan dengan persaingan pasar yang sangat ketat.

Justeru PLN hanya “dipusingkan” dengan meningkatnya penggunaan listrik. Padahal itu berarti pembayaran pembelian listrik konsumen akan lebih besar. Sementara perusahaan lain, setengah mati mencari dan mempertahankan pelanggan karena pesaing begitu agresif. Maka pantas, jika PLN beriklan agar pelanggan hemat energi, sementara perusahan lain seperti operator selular, beriklan agar pelanggan semkin konsumtif. (*)

SELAMAT HARI LISTRIK NASIONAL 


Prof Rudy, temukan M-Bio untuk gemburkan tanah pertanian

Berawal dari kegelisahan terhadap menurunya produktifitas pangan, membawa Prof Rudy Priyadi –ilmuan di Universitas Siliwangi Tasikmalaya— pada penemuan M-Bio. M-Bio pada prinsipnya, kerja cairan mikro organisme yang berfungsi menggemburkan tanah yang selama ini telah tercemar dengan bahan-bahan kimiawi baik akibat penggunaan pupuk kimia atau pestistida.

Sejak tahun 1992, doktor lulusan Universitas Padjajaran Bandung tahun 1996 pada bidang pertanian ini, meneliti kandungan tanah yang tercemari. Kesimpulannya, tanah pertanian sudah sakit sehingga tidak akan lagi memberi penghasilan yang maksimal terhadap para petani.

Prof. Dr. Rudy Priadi, penemu M Bio.

Di sisi lain, setiap tahun terjadi penyempitan lahan sawah akibat desakan populasi manusia yang tidak bisa dihindari. Sementara produktifitas pangan tidak boleh terhenti atau berkurang. Di sinilah perlu upaya revolusioner dan sederhana agar dengan lahan terbatas, pangan tetap melimpah dan berkualitas
Salah satu titik terang, dari sering Rudy menggelar diskusi terbatas terkait produktifitas lahan pertanian padi, misalnya dengan pegiat di Kontak Tani Nelayan Andalam (KTNA) Indonesia.

Saat itu ada fakta keberhasilan bidang pertanian, dengan penerapan teknologi dari Jepang dan Thailand. Namanya, Teknologi Affectifve Microorganism (TAM) yang diadopsi di Indonesia pada dekade 1992-1993. Hasil teknologi tersebut, secara kuantitas dan kualitas, pangan jauh meningkat. Namun sayang, petani tidak bisa menjabarkan secara ilmiah peningkatan produksi pertanian tersebut sehingga fakta-fakta itu tidak direspon baik oleh pemerintah bahkan lembaga penelitian sekalipun.

Berbekal kelimuan hasil pelatihan di ITB tahun 1998, Rudy mencoba menerapkan teknologi permentasi. Bersama petani di KTNA serta tokoh petani lain di Tasikmalaya, ia menerapkan berbagai percobaan dengn teknologi permantase terhadap pupuk organik. Hasil trial and error itulah, mulai ditemukan sebuah jawaban. Bahwa dengan permentase kompos organik bisa cepat menjadi pupuk. Teknologi ini, mikoroba menguntungkan bisa mengubah bahan organik.Proses pembusukan itu disebut proses permentasi.

Hasil penelitian awal, Ridy pun sempat diundang dalam seminar tingkat internasional Asia Pasific National Agricukture Network (APNAN) di Bangkok-Thailand. Dari pertemuan itu pula, semakin memantafkan temuan awal Rudi tentang teknogi permentase. Landasan teori itu  diadaptasi dengan teknolgi pertanian berbasis lokal atau yang lebih sesuai dengan kondisi di Indonesia. Maka dihasilkanlah teknonogi baru yang dia namai dengan M-Bio.

Cara pembuatan M-Bio terang Rudy melalui proses isolasi bahan mikoroba dari alam lewat cara-cara tertentu. Setelah mikroba bermanfaat tertangkap, lalu dipilih dan diperbanyak melalui prosedur pencampuran mikoroba (mic culture) yang terdiri dari beberapa mikroba yang saling kerjasama sehingga mampu mempermentasi bahan-bahan organik. Proses pengayaan mikroba kata dia dilakukan secara laboratoruum dengan rumus-rumus tertentu. 

M-Bio kini sudah menjadi merek dagang terdaftar di Departemen Pertanian RI. Selain itu, sudah memiliki Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) atau hak paten teknologi M-Bio yang diajukan kepada Departemen Kehakiman dan HAM dengan nama CMF 21 dengan hak paten nomor P.20000939

Mengembangkan Kultur Nenek Moyang

Dari sisi kerja M-Bio secara sederhana, mengembalikan tingkat kesuburan tanah pertanian melalui permentasi bahan-bahan organik. Misalnya pada lahan yang akan diatanami padi atau tanaman lain, harus disediakan terlebih dahulu pupuk organik baik kotoran hewan maupun daun-daun hijau bahkan sampah oragnik perkotaan.

Teknisnya, bila bahan-bahan organik sudah siap, maka sebarkanlah bahan M-bio dengan takaran tertentu. Mikro organisme dalam M-Bio tersebut akan mempercepat proses kompos menjadi pupuk. Kalau secara alamiah dari bahan organik menjadi pupuk memakan waktu dua bulan. Dengan campuran M-Bio, hanya memakan waktu satu atau dua minggu, kompos organik sudah menjadi pupuk dan dapat digunakan. “Dengan pola seperti ini, tanah tidak akan keras lagi dan langsung gembur.

Mahluk organisme seperti cacing atau mikorba bermanfaat akan kembali berfungsi. Produksi lahan akan lebih banyak antara 30-40 persen dengan pola tanam tanpa M-Bio. Sedangkan bila menggunakan pupuk kimiawi, hanya mampu mengembalikan sifat kimia kesuburan tana,” katanya.

Kini terang Rudy dalam penggunaan M-Bio di masyarakat tidak sekedar untuk penggemburan lahan pertanian. Namun digunakan untuk bidang perikanan dan peternaka. Di Fakultas Pertanian Unil sendiri terang Rudi, M-Bio dijadikan lahan praktik mahasiswa dalam peternakan pembesaran ayam bloiler dan tanaman. Hasilnya cukup bagus. Dengan takaran tertentu, mampu menghasilkan daging ayam yang kualitasnya bagus.

“Kami juga menerapkan teknologi M-Bio di pusat inkubasi bisnis Fakultas Pertanian untuk praktik mahasiswa. Kami juga sering mendapat laporan dari masyarkat ternyata M-Bio mampu meningkatkan produksi daging sapi juga ikan. Justeru keberhasilan itu berdasarkan laporan-laporan bukan berdasarakan hasil penelitian yang disengaja,” katanya.

Belum Diproduksi Massal

Penemuan bahan permentasi yang oleh Rudy Priyadi tersebut sayang belum diproduksi secara besar-besaran. Padahal, manfaat untuk industri peternakan dan peningkatan produksi pertanian sudah dirasakan oleh petani dan peternak.

Dr Ida Hodiyah, produsen M-Bio yang juga turut meneliti kelahiran M-Bio di Fakultas Pertanian Univesrsitas Siliwangi Tasikmalaya mengatakan, produksi M-Bio saat ini sebatas produksi rumahan yang kuantitasnya terbatas. Per putaran produksi atau selama tiga bulan hanya menghasilkan 70.000 liter. Sedangkan cara promosi dan penjualan masih sebatas getuk tular dari pengguna yang satu kepada pengguna yang lain.

“Bila petani atau pengguna merasa puas dengan produk M-Bio, mereka bicara kepada yang lain dan orang yang diberi tahu membeli kepada kami,” terang Ida yang juga mantan dekan Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi itu.

Lanjutnya, untuk pengiriman, banyak di Pulau Jawa bahkan luar Pulau Jawa seperti Banjarmasin (Kalimantan) juga ke luar negeri ke Malaysia.  Ida berharap, kalau ada modal untuk produksi secara massal, ia siap bekerja sama. Hal itu bila melihat sisa manfaat, akan berdampak besar terhadap produktifitas pertanian dan peternakan dengan lahan terbatas. “Kami berharap produksi M-Bio bisa dilakukan secara massal. Namun masih terkendala permodalan. Kalau ada investor kami siap kerja sama,” terangnya. (anep paoji)
   

BATIK TASIK : Tema alam dan warna cerah jadi tren

Para perajin batik di Tasikmalaya terus berinovasi. Mulai desain, tema hingga warna, terus disempurnakan. Perajin batik di Kampung Ciroyom, Kelurahan Nagarasari, Kecamatan Cipedes dan Kelurahan Parakanyasag, Kecamatan Indihiang misalnya, mendominasi desain batik dengan tema alam, baik flora dan fauna. Tema-tema tersebut menginspirasi mereka menciptakan desain baru yang unik di samping tidak meninggalkan vakum tradisi batik.
Sedangkan pemilihan warna, dominan cerah yang menjadi tren 2012 mengikuti para desainer nasional dalam kreasi terbarunya. Merah, oranye, kuning merupakan warna pilihan.
Supriadi Harmaen, pengusaha yang juga desainer batik di Jalan Cigeureung, Kota Tasikmalaya menjelaskan, inspirasi dari alam seperti tumbuh-tumbuhan, hewan, kondisi lingkungan sosial tetap pilihan favorit saat mendesain motif batik baru. "Bunga, ranting, dahan, daun satu kesatuan yang tak bisa lepas dari motif terbaru bernama buketan. Ketika semuanya berkumpul membentuk gambar yang indah," kata pengusaha yang pernah mendapat penghargaan dari Kementerian Industri dan Perdagangan Republik Indonesia itu, belum lama ini.
Lanjutnya, buketan, tergolong motif baru yang mulai menyasar pasar sejak Januari lalu. Motif tersebut terinspirasi dari seikat bunga yang terdiri dari berbagai jenis. Motif yang lain dengan bentuk bunga wijaya kusumah, tergolong desain yang benar-benar fresh from the open alias benar-benar masih segar.

Sentuhan baru dari sisi warna yang lebih cerah membuat motif ini tak membutuhkan lama disukai konsumen. Pilihan oranye yang memberi kesan ngejreng membuat pemakainya seolah terus mengikuti tren warna kekinian "Motif ini ternyata disuka oleh para pejabat di Jakarta. Mereka terkesan dengan desain Bunga Wijaya Kusumah yang memberikan efek berwibawa dan elegan," ujarnya.
Sementara motif rereng danas dengan memadukan warna merah muda dan biru muda, merupakan desain lama yang didaur ulang perajin. Dengan tambahan hewan kupu-kupu, motif ini menjadi bertambah unik dan menarik. "Perajin terus menciptakan motif-motif baru untuk memenuhi keinginan pasar dan terciptalah desain yang berbeda. Motif batik jenis ini biasanya menyasar pasar segmen menengah ke atas," katanya.